CURHATAN

menikmati setiap sensasi

seperti orang-orang yang keretanya terlambat, kemudian merengut

tapi tetap saja, ketika kereta datang, mereka berebut,

melihat pemuda berbagi duduk dengan wanita tua di kereta,
anak kecil yang antusias sekali duduk di kursi kereta -tak pernah orang-orang tua terlihat seperti dia
dan para pengamen itu, dengan beberapa alat yang aku tak tahu pasti namanya -sejenis piano dan sejenis gitar tapi terlalu besar disebut gitar. suara mereka bagus, ditambah musik kereta yang bagi sebagian orang berisik -tapi aku menikmati hentakan kereta, kali ini.
ada juga nenek tua yang membeli bros kupu-kupu muda
ya, semuanya memberi sensasi sama seperti membaca dua baris pertama
menyadarkan, menyegarkan.
*kalimat asli dua baris pertama ada di tulisan Ustadz Faris.
CURHATAN

nyalahin orang aja


suatu mata kuliah, duduk di tempat biasa -paling belakang. mendengarkan dosen ngomong di depan, kali ini nyentil sebuah sidang legislatif yang baru terjadi ‘tadi malam’.

“saya jadi ingat bahwa Gusdur pernah bilang DPR itu seperti taman kanak-kanak. tadi malam pada nonton, kan? mereka saling lempar argumen dengan emosi yang meluap-luap, sesekali ada kata kasar, padahal tidak sedikit dari mereka yang sudah mengenyam pendidikan tinggi,” begitu kira-kira.

“dosen ini ngomel mulu dari tadi. nyalahiiiiiin aja, solusinya manaaaa…,” keluh anak yang duduk di belakang itu; aku -di dalam hati, mana berani ngomong coba -.-

“sebentar, bukannya aku juga lagi nyalahin orang ya? nyalahin yang lagi ngomong di depan,”

kemudian berpikir bahwa ke depan akan lebih banyak diam dulu, sebelum menemukan solusi. diskusi atau debat yang terjadi mungkin bagian dari proses, biarlah mereka. untuk sekarang aku memilih diam atau ikut sesekali saja.

malu juga kalau ingat cerita orang tua yang menanam pohon untuk diambil manfaat oleh anak cucunya kemudian melihat diri yang sering secara tak sadar ingin segera mendapat hasil setelah melakukan sesuatu.
CURHATAN

ikhlas -dipuji, dicela

gimana ya orang-orang ikhlas itu kalau dapat pujian atau celaan? 

katanya… 
kalau dipuji kerjaannya, dia tidak menjadi lebih semangat…. 
kalau dicela, dia tak surut…. 

wah… 
gak ada rasa senang gitu pas dipuji? 
gak galau gitu pas dicela? 

hmm… 
gimana rasanya ya, pas dipuji tapi bisa gak senang dan gak nambah semangat, 

gimana rasanya ya, pas dicela gak bikin galau dan langkah surut, 

pengen ngerasain…. 

*ikhlas itu kayak kau (maaf) boker, dipuji atau dicela “produktifitas”mu ya segitu juga, gak ngaruh. gak minta imbalan, gak minta balik juga.