Month: August 2012
sakit (2) – selesai
bandung, juni 2012
Melanjutkan obrolan tentang sakit. Tentu apa yang saya tuliskan di bagian pertama hanya salah satu cara bagaimana memaknai sakit. Karena, pastinya, tidak semua sakit harus kita alami sendiri sambil bisa bergembira (baca: bersyukur). Meskipun bagian kedua ini pun hanya secuil dari pemahaman manusia tentang sakit. Jika Anda juga punya pemaknaan lain, saya akan senang jika diizinkan mengetahuinya. 🙂
Sakit memberi kita pengalaman berharga untuk belajar berempati pada orang lain yang suatu saat sakit, meski kita tidak sedang atau tidak pernah merasakan sakitnya.
Pengalaman demam flu memberi kita gambaran betapa sakitnya demam malaria ditambah tifus jika demam flu saja sudah sedemikian menyiksa.
Sakit kepala yang tiba-tiba datang saat galau memberi kita gambaran betapa sakitnya jika ada kanker yang harus mampir di kepala orang lain.
Keseleo di kaki memberi kita gambaran betapa sakit kecelakaan yang membuat kaki orang harus diamputasi dua-duanya.
Gambaran-gambaran inilah yang merangsang munculnya rasa empati kita pada orang yang sedang sakit.
sakit
bandung, juni 2012
“Sakit kepala itu gimana yah? Kalau flu kan kelihatan bersinnya. Batuk juga kelihatan. Demam juga kerasa panasnya, kelihatan pula kalau dia menggigil. Sakit kepala? Jelas-jelas si kakak itu tadi gak kepentok daun jendela, misalnya. Kalau itu sih, aku tahu rasanya.”
Waktu itu saya hanya menyimpan sendiri pertanyaan itu. Sampai ketika saya merasa nyut-nyutan di kepala. Anehnya, ketika ditanya mama, “Kamu kenapa? Kayak sakit gitu?” Saya bilang saya sakit kepala -tanpa harus berpikir ini sakit kepala atau bukan.
Seketika, di antara kepala yang terasa nyut-nyutan saya bergembira. Saya akhirnya tahu rasanya sakit kepala!