CURHATAN

tegas minimalis: masjid markas kopassus

lambang kopassus

Beberapa hari di Markas Kopassus (Makopassus) Cijantung –gak jadi sampai seminggu- saya menikmati akomodasi standar pelatihan. Tempat tidur massal -barak, kamar mandi penuh antrian -ada yang massal juga, jemuran di lantai lima, dan mushalla seadanya -kadang shalat di barak aja. Makanan? Enak kok menunya, tapi waktu makannya dibatasi, lima menit, dua menit, bahkan satu menit -meskipun yang ini kayaknya ngitungnya diperlambat kemaren- jadilah menu yang enak itu tidak bisa dinikmati.

Shalat sih yang agak kurang enak di situ. Secara waktu istirahat buat shalat Zhuhur sama Ashar itu sempit dan udah lewat awal waktu, jadilah sering shalat dengan badan yang habis disuruh push up sama dilatih PBB, di barak, di celah sempit antar velbed. Di mushalla lantai lima agak enakan, anginnya sepoi-sepoi gitulah, bikin adem.

Terus shalat Jumat kemaren gimana? Di situ juga?

Gak lah, khusus hari Jumat, latihan pagi berakhir jam sebelas. Ada waktu buat persiapan mandi dan kali ini berangkat ke masjid makopassus. Pertama kalinya nih shalat di sini. Gak ada ekspektasi macam-macam sih pas berangkat ke sana. Tapi pas masuk, wah, halamannya luas, ijo, sama ada beberapa pohon gede yang menggoda untuk shalat di halaman aja.

“Para jamaah dan mahasiswa diharapkan untuk mengisi shaf yang kosong di dalam masjid terlebih dahulu,” kata takmir masjid. Jadilah batal shalat sambil ngadem di halaman masjid.

Tapi gak nyesel deh masuk masjidnya, adem juga plus bisa lihat desain masjidnya. Salah satu hobi natural saya adalah mengamati desain sesuatu, apa aja. Masjidnya kopassus banget lah. Minimalisnya dapet, tegas, alias patah-patah kalau istilah Pelatih Kasnari.

Dinding yang mengelilingi masjid ini berupa kayu yang dipasang tegak dan mendatar dengan jarak sekitar 5-10 cm dan membuat pola lubang persegi panjang dengan warna hitam legam. Kesan tegas yang total didapat dari mihrab yang tidak berbentuk lingkaran seperti masjid kebanyakan, tapi menggambil bentuk segitiga. Dinding kanan mihrab ini dibentuk dari tiang-tiang beton berjarak -membuat sinar matahari bisa masuk, dan dinding kirinya full beton -tidak berlubang.

Hiasan atas mihrab juga tidak mengambil bentuk lingkaran. Kembali dengan desain yang patah, ada tiga sisi dengan sisi di tengah paling panjang dan menjorok ke depan. Ada kaligrafi basmalah di sini, lagi-lagi bukan dengan tulisan berkelok lembut seperti banyak kaligrafi di masjid-masjid. Kaligrafinya memakai jenis yang mengambil bentuk dasar kotak -lupa nama jenis khat apa. Totalitas banget ini patah-patahnya. Oh iya, buat yang memperhatikan detil kaligrafi ini, pasti bakal ngeh kalau titik di huruf nun sudah hilang –copot kayaknya, masih ada bekasnya.

Tahu lambang kopassus, kan? Mimbar masjid ini yang mengambil bentuk ramping tambah gagah ditambah dengan lambang kopassus di depannya. Ya itu tadi, semuanya kopassus banget.

Sayang kemaren gak bawa kamera ke masjid ini -ya niatnya cuma shalat sih. Kalau ada kesempatan main ke Cinjantung lagi, sepertinya masjid ini layak dipertimbangkan jadi tempat yang pertama disinggahi. Ambil fotonya lah nanti. InsyaaLlah.

Satu hal yang terlewat oleh saya, nama masjid ini apa ya?

5 thoughts on “tegas minimalis: masjid markas kopassus”

waiting for you...