CURHATAN

ke markas kopassus lagi [dua]

kembali lagi ke suatu tempat bisa memberi efek tertentu. apalagi jika tempat itu memiliki hal khusus -misalnya cerita- dalam hidup kita. markas kopassus di cijantung adalah salah satu tempat yang pernah saya singgahi dan apa saja yang dialami di sana patut diingat. mungkin bukan cuma buat saya, karena hampir semua alumni STAN ’09 mempunyai pengalaman yang mirip -untuk tidak menyebut sama- di tempat yang satu ini.

buat yang belum baca tulisan bagian pertama, silakan klik ke markas kopassus lagi.

di tulisan sebelumnya, ada flashback tiga kegiatan utama di makopassus: baris berbaris, makan, dan acara di ruangan. bener ini kan ya kegiatan utamanya? bukan tidur, tidur, dan tidur? gak lah ya. šŸ™‚

apa sih yang didapat dari kegiatan utama itu -juga kegiatan lainnya di sana?

pertanyaan standar lah ya. tapi kali ini kita tidak akan berbicara bahwa dengan kegiatan-kegiatan itu diajari kedisiplinan, jiwa korsa, dan lainnya. disiplin dan jiwa korsa? lihat saja sendiri pada diri masing-masing, bagaimana setelah kembali ke habitat asli? nah, gak perlu diomongin, kan? šŸ™‚

kembali ke pertanyaan, saya pikir jawabannya adalah selama di sana kita mendapatkan jiwa penurut kita. ya, kita tiba-tiba jadi nuruuuuuut banget -pas di sana. padahal, tentu kita akui ada jiwa pemberontak bahkan pembangkang dalam diri kita. minimal ada kecenderungan untuk melakukan sesuatu di luar perintah atau batasan tertentu, manusiawi. tapi di makopassus kemaren sikap penurut kita rising to the max, ya?

baris-berbaris.
semua aba-aba diikuti. ya iyalah ya. tapi kerennya itu, setiap ada kesalahan -yang bahkan tidak dilihat pelatih- adaaaa saja yang langsung turun mengambil jatah push up. keren nih. nuruuuut banget, kesadaran meningkat.

makan.
seandainya semua aba-aba di acara makan ini dianggap gak ada tujuannya, maka jadilah semua prosesi di dalamnya adalah prosesi aneh -kecuali berdoa. eits, perhatikan kalimatnya dengan benar ya, “seandainya”. duduk siap, makanan diluruskan, laporan, makan 5 menit -kadang sambil suap-suapan, kadang makan menunya satu-satu dan di akhir tinggal nasi putih, laporan lagi, dan selesai. semuanya kita ikuti. nuruuuuuut banget. sempet ribut di tengah makan, ditegur pelatih, dieeeeem.

acara di ruangan.
ini juga, perintahnya utamanya cuma satu: jangan ngantuk. maka digunakanlah segala cara biar gak ngantuk. apa aja? tergantung orangnya. apa aja ya? šŸ™‚

begitulah, nuruuuuut banget!
terus, salah gitu kalau nurut?
ya gak lah. tapi saya mikir gini, kawan, kalau sama kopassus yang sama-sama manusia aja kita bisa nurut banget gitu, kenapa kadang sama Tuhan enggak? mungkin karena Tuhan gak akan nyuruh push-up, Tuhan gak bakal deh bentak-bentak. gitu ya?

denger adzan misalnya, itu panggilan shalat. kita? harusnya kan cepet-cepet juga. tapi? kadang cepet-cepet sih. šŸ™‚

saya mikir gini, coba kalau dosa itu diganti sama push-up, bakal banyak manusia yang nurut kali ya? kalau sekarang kan dosa itu gak keliatan. jadi kadang lupa atau malah gak takut dosa. tapi ya, di sinilah ujian lagi buat kita. kita harus sadar, bahwa Tuhan punya cara yang berbeda, cara yang tentu bagian dari sifatNya: beda dengan segala ciptaanNya.

salah satu guru saya waktu kecil pernah bilang:
“kalau saja pahala itu ditampakkan seperti gunung emas dan dosa ditampakkan seperti harimau yang siap menerkam, maka tidak akan ada manusia yang mau berusaha untuk dunia. semuanya akan jadi ahli ibadah.”

waiting for you...