PIKIRAN

Mari Pilih dan Doakan Para Pemimpin dan Wakil-Wakil Kita….

sumber

Ada skeptisme dalam diri masyarakat terhadap DPR dan lembaga politik pada umumnya. Ini tidak baik. Harus diakui bahwa tingkah laku anggota DPR lah yang membuat ini terjadi. Tapi sebenarnya, porsi kita sebagai masyarakat adalah mengawasi, menilai, memberikan masukan, mengkritik, dan sebagainya pada para anggota dewan yang terhormat. Sedangkan membawa skeptisme dalam pikiran kita itu seperti sengaja memasukkan penyakit pada diri kita sendiri, lalu membawanya ke mana-mana. Skeptisme ini menular. Hingga suatu saat, yang sakit bukan hanya individu tapi masyarakat, bahkan negara.


Dilalahnya, kalau tidak segera diobati, dia akan tambah parah. Siklus sederhananya, skeptisme muncul – meluas – masyarakat skeptis – pemilu diadakan – sebagian orang skeptis jadi caleg/sebagian orang sembarangan/sebagian orang baik – pemilihnya: masyarakat skeptis – yang terpilih? isi sendiri – kelakuan anggota DPR? isi sendiri – skeptisme makin tinggi.

Skeptisme harus kita kikis sama-sama, mulai dari diri kita masing-masing.

Dalam beberapa kesempatan, beberapa dosen dan senior di sebuah kementerian pun begitu. Mereka sering menyebut kata politis dan DPR itu dengan nada skeptis dan putus asa. Sedih saya. Sampai di minggu ini, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan sedikit uneg-uneg di kelas sebuah diklat yang saya ikuti. Ini saya sampaikan karena sebelumnya narasumber pun menyebut kata politis dengan nada plus gestur yang menunjukkan hal yang kira-kira sama -setelah saya menyampaikan ini, beliau mengakui.

Saya ingin kita, setidaknya yang di kelas ini, saat nanti sudah saatnya harus berhubungan dengan DPR karena tugas kantor, sudah punya pemahaman yang lebih baik tentang DPR. Iya, harus diakui bahwa meminta persetujuan pada DPR itu sulit. Orangnya banyak, beragam. Tapi harus disadari, merekalah gambaran rakyat Indonesia yang duitnya kita gunakan membiayai program-program kementerian ini. Kalau tidak ada DPR, bayangkan betapa sulitnya kalau kita harus menghadapi seluruh rakyat untuk menyetujui RUU APBN misalnya. Berat sekali. Syukur kita hanya menghadapi wakil-wakilnya. Begitulah kira-kira gambaran rakyat kita juga. Hanya jumlahnya yang berbeda, persentasenya -yang baik, yang kurang baik- insyaaLlah hampir sama.

Kira-kira begitu. Ada yang harus kita sadari bersama tentang betapa vital peran DPR ini. Banyak sekali. Kalau kita tidak peduli, nanti yang duduk di sana akan membuat kita makin putus asa lagi. Sudah tak ada gunanya lagi merutuki.

Tapi apa daya. Tak mampu kita mengubah pendirian orang. Mengubah diri sendirilah dulu. 

Bercermin pada kisah di jaman Ali bin Abi Thalib jadi khalifah. Seorang lelaki yang skeptis dengan pemerintahan Ali datang dan berkata, “Ali, kenapa keadaan di jamanmu seperti ini sedangkan di jaman Abu Bakar dan Umar begitu nyaman?” Jawaban Ali begitu telak dan dari sini kita ambil pelajarannya, “Jaman Abu Bakar dan Umar, rakyatnya seperti aku. Sedang di jamanku, rakyatnya seperti kamu.” 

Mari doakan para pemimpin dan wakil-wakil kita…. 

waiting for you...