![]() |
| sumber |
InsyaaLlah. Agaknya kita perlu lebih hati-hati menggunakan kata ini. Kita -saya sendiri- suka menggunakannya untuk sesuatu yang kita ragu untuk mengiyakan. Sementara saat yakin, kita terbiasa langsung mengggunakan “iya”, “oke”, “siap”, dan sebagainya.
Ada baiknya mungkin perlu memikirkan secuil hikmah dari ayat Ash-Shaffat:102 di atas. Bukan menafsiri, karena kita jauh panggang dari api, cukup mengambil ibrah sesuai kemampuan kita. Semoga menguatkan diri. Mari kita tanyakan,
Adakah keraguan dalam diri Ismail ketika menjawab, ““Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaaLlah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”?
Kejujuran dalam jiwa kita akan mengakui bahwa kita tidak menangkap sedikit pun keraguan dari kata-kata itu. Justru kita melihat kemantapan hati seorang anak dalam mendukung sang ayah untuk melaksanakan perintah Tuhan.
Saya sendiri sedang berusaha untuk menerapkan ini bersama istri. Istri akan selalu yakin kalau saya berjanji dengan didahului insyaaLlah. Begitupula sebaliknya. Selain itu, ketika sudah terucap kata insyaaLlah, maka kami akan berusaha menepati janji itu melebihi ketika kami hanya mengatakan iya, oke, siap. Misalnya ketika LDR-an seperti sekarang -curcol, suatu ketika ada kondisi yang mengharuskan saya menutup telepon dulu. Sementara istri masih ingin ngobrol -misalnya :p, maka dia akan minta ditelepon lagi setelah urusan selesai. Kalau dijawab “iya” aja, dia bakal bilang, “janji ya?” Kalau saya jawab, “insyaaLlah,” dia akan langsung tenang. Hehe. 🙂
Oya, ada yang pernah tau cerita Abu Nawas dan seorang penjahit tentang kalimat insyaaLlah ini? Kalau pernah, insyaaLlah kita akan sepaham. InsyaaLlah. 🙂
