![]() |
| sumber |
Beberapa hari ini saya sedang disibukkan dengan tugas membuat sebuah tulisan yang dulunya cukup saya benci. Namanya karya tulis ilmiah. Saya benci jenis tulisan ini karena punya pengalaman buruk sejak dari SMA sampai kuliah dengan jenis tulisan yang satu ini. Pengalaman buruknya tidak usah diceritakan lah ya…. :malus
Yang jelas, sejak 2 tahun yang lalu, saya tidak pernah lagi menulis tulisan jenis ini. Terakhir, saya menulis untuk tugas akhir kuliah saya di STAN yang sampai sekarang saya tidak pernah mau tahu bagaimana nilai akhirnya. Ampun -.-
Ndilalahnya, ketika mulai melaksanakan on the job training, seluruh peserta diwajibkan membuat karya tulis ilmiah tentang salah satu bidang di Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Banyak tema dan coach-nya yang telah ditentukan oleh bagian kepegawaian untuk dipilih oleh peserta. Saya sempat was-was untuk memilih karena takut dapat coach yang mempersulit dan tema yang tak saya kuasai.
Akhirnya, saya memberanikan diri untuk memilih sebuah tema. Temanya mirip dan berhubungan dengan laporan tugas akhir saya waktu di STAN. Harapan saya, dengan begitu, saya bisa lebih mudah mengerjakannya. Terwujudkah?
Ternyata…. terwujud!
Tapi tidak mudah, dari total waktu 5 minggu untuk mengerjakan, hanya tersisa 1 minggu buat saya. Ini karena saya harus menjalani diklat selama 4 minggu yang memakan waktu penulisan. Diklatnya sama kopassus lagi, seminggu pertama.
Tapi tidak mudah, beberapa kali terjadi revisi. Tetapi entah kenapa, dalam proses penulisannya saya begitu menikmati. Pertama kalinya saya bisa menulis ilmiah sesemangat ini. Mata bisa bertahan sampai jam 12 malam dan kembali terjaga jam 4 subuh untuk kembali melanjutkan. Saya sendiri heran dengan diri saya kali ini.
Ternyata ada dua kunci. Kunci pertama adalah materi yang memang lebih saya mengerti karena sudah pernah saya garap sebelumnya, tinggal melanjutkan karena sekarang sistemnya lebih baru dan lebih bagus. Tinggal analisis perubahan sistemnya. Kunci kedua adalah dari coach. Untuk yang ini saya harus mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk Ibu Anisah Alfada untuk semua bimbingannya. Baru kali ini saya dapat pembimbing karya tulis yang sangat bagus cara berpikir dan cocok dengan cara berpikir saya. Alhamdulillah.
Kemudian saya yakin, ketika kita bisa menemukan sebuah topik yang pas dan kita bisa bersemangat untuk itu, kita akan punya tenaga lebih untuk mengerjakannya. Selain itu, coach atau partner yang pas juga sangat diperlukan untuk mengembangkan ide dan membimbing proses penulisan. Saya masih ingat sekali kalimat Bu Anisah saat pertama kali saya menghadap dan saya mengakui masih kesulitan mencari topik yang pas, “jangan dipikirin sendiri.”
Singkat dan mengena sekali. 🙂

wuih sekarang magang pake begituan yah… kalau kami mah beban moralnya ngisi daftar kerjaan di timesheet…
baguslah kalau ada tugas gitu, jadi terlatih untuk lebih ilmiah lagi
iya mas, ada gituan. hehe. ngisi daftar kerjaan juga masih ada kok. :')