PIKIRAN

“Sukarno Ditangkap.” oleh Bung Hatta, 1933.

Berikut adalah tulisan Bung Hatta saat Sukarno ditangkap pada 31 Juli 1933. Posisinya saat itu, Sukarno, sebagai pemimpin Partindo -Partai Indonesia, dianggap menghasut rakyat Indonesia untuk melakukan perlawanan pada pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan Hatta, sebagai pemimpin PNI baru (Pendidikan Nasional Indonesia), ‘partai’ lain yang sebenarnya berasas sama “non-cooperation” tapi sempat berpolemik dengan Sukarno pada tahun sebelumnya karena berbeda paham tentang asas non-cooperation. Sempat terjadi ketidakakuran antara dua pemimpin bangsa ini.

Yang jadi poin saya adalah, bagaimana Hatta merespon penangkapan Sukarno dan bagaimana pandangan beliau tentang pergerakan, beliau menyebut pergerakan pemimpin dan pergerakan rakyat. Ejaan dalam tulisannya sudah disesuaikan.

Sukarno Ditangkap.

Penangkapan Sukarno pada tanggal 31 Juli 1933 malam menggoncang udara politik di Indonesia. Pers reaksi bersorak-sorak dan mencak-mencak, mengatakan bahwa penangkapan itu ‘menyenangkan hati’. Ia tidak puas dengan itu saja. Pemerintah yang sudah menunjukkan kekuatan tangan besinya dihasut lagi supaya ia terus-menerus melakukan palunya, membinasakan segala pemimpin yang dipandang ‘berbahaya’.

Kalangan Indonesia kelihatan masygul dan gusar. Masygul mengingat nasib yang akan diderita oleh pemimpinnya. Gusar melihat pergerakan seluruhnya mendapat rintangan yang maha-hebat. Akan tetapi, barisan yang insaf dalam pegerakan menerima percobaan ini dengan hati tetap dan sabar.

Apakah yang akan terjadi dengan dirinya Saudara Sukarno?

 Alasan yang dikemukakan pemerintah atas penangkapannya ialah bahwa ia bersalah melanggar Pasal 153 bis dan ter. Dan siapa yang terkena oleh pasal-pasal itu, masih terjerat dan terikat. Karena tak ada orang yang dapat mengatakan dengan pasti, apa yang dikatakan menghasut menurut pasal-pasal tersebut. Itulah sebabnya segala partai nasional berusaha Pasal 153 bis dan ter dihapuskan.

Akan tetapi, Sukarno yang dituduh bersalah menurut Pasal 153 bis dan ter tidak akan dituntut di muka pengadilan. Pemerintah sudah menyatakan di muka persidangan Volksraad bahwa ia bakal diinternir, dibuang.

Inilah yang menimbulkan masygul dan gusar dalam hati orang banyak. Pemimpin yang begitu dicinta tidak akan terdengar lagi bersuara di muka mereka. Bertapa dalam hotel prodeo beberapa tahun tidak begitu disusahkan oleh rakyat karena sehabis pertapaan yang ditentukan lamanya, pemimpin itu akan kembali ke tangah-tengah rakyat. Tetapi kalau dibuang, waktunya tidak ditentukan. Boleh jadi bertahun-tahun. Boleh jadi jua selama hidup. Inilah pedas dan pahitnya yang terasa di hati rakyat.

Sukarno bakal lenyap dari kalangan pergerakan rakyat. Semenjak ia maju ke muka menjadi pemimpin, mula-mula sebagai penganjur PNI *) dan kemudian sebagai pendekar Partindo, hidupnya terbagi dalam kewajiban dan korban. Setelah ia dua setengah tahun mengobar-ngobarkan semangat kebangsaan, ia menjadi korban pergerakan dan bernaung dua tahun lamanya dalam penjara. Sekarang ia sudah satu setengah tahun lagi dalam perjuangan dan tangan yang berkuasa menyingkirkannya lagi daripada pergerakan yang dibelanya, barangkali untuk selama-lamanya.

Rakyat pilu dan berdukacita, itu sudah selayaknya mengingat nasib yang bakal diderita oleh Sukarno. Akan tetapi, dalam segala kesusahan, rakyat harus sabar. Tiap-tiap pengorbanan harus memperkuat iman dan batin kita. Dan tidak ada cita-cita yang mulia tidak menghendaki korban. Bertambah lanjut kita berjuang, bertambah banyak pemimpin yang bakal jatuh dan terjerat. Dan kewajiban daripada pegerakan rakyat ialah memajukan pahlawan baru ke depan untuk mengisi barisan yang terluang.

Syarat inilah yang harus dipenuhi. Pergerakan kita tak boleh tinggal pergerakan pemimpin, yang hidup dan mati dengan pemimpin itu. Akan tetapi, pergerakan kita harus menjadi ‘pergerakan pahlawan-pahlawan yang tak punya nama’, artinya pergerakan rakyat sendiri, yang tidak tergantung kepada nasib pemimpinnya. **)

Bagian-bagian yang saya bold adalah bagian yang menurut saya menunjukkan perasaan Bung Hatta saat itu. Sedangkan yang saya bold dan underline adalah sikap Bung Hatta atas penangkapan tersebut dan pandangan beliau tentang bagaimana sebuah pergerakan seharusnya. Saya sangat terkesan dengan pandangan beliau ini. Sebuah pandangan yang sangat mendasar dan itulah yang beliau terapkan dalam PNI baru.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari tulisan bung Hatta di atas. Mungkin ini bisa jadi narasi keIndonesiaan ke depan. πŸ™‚

 

*) PNI-nya Sukarno adalah Partai Nasional Indonesia yang dibubarkan oleh para pemimpinnya sendiri setelah sebagian dari pemimpinnya ditangkap pemerintah Hindia Belanda. Bung Hatta yang saat kejadian masih berada di Belanda sangat kecewa dengan pembubaran itu. Menurut beliau itu menunjukkan kelemahan sebuah pergerakan. Maka tidak lama setelah itu, beliau kembali ke Indonesia dan mendirikan PNI baru, Pendidikan Nasional Indonesia, sebuah pergerakan yang menekankan pada pendidikan kader. bukan ketokohan pemimpin.

**) Tulisan diambil dari buku “Untuk Negeriku; Sebuah Otobiografi” yang diterbitkan oleh Kompas, buku kedua, halaman 101-103.

waiting for you...