PIKIRAN

Kuaci [/ku·a·ci/]

kuaci /ku·a·ci/ n biji semangka yg dikeringkan dan diasinkan (untuk dimakan)

Definisi di atas sih kata link ini: http://kbbi.web.id/kuaci. Saya pribadi gak setuju, soalnya kuaci yang dibawa sama temen ke kantor hari ini dari biji bunga matahari.

Tapi itu gak penting. Yang menarik adalah saat makan kuaci bareng, ada dualet me saycara makan kuaci.

Cara pertama dan ini yang paling banyak digunakan kawan-kawan adalah ambil satu-buka-makan-ambil lagi-buka-makan. Ya ini cara konvensional, cara yang dipakai banyak orang. Cara kedua agak beda, ambil satu-buka-letak dulu-ambil lagi-buka-letak lagi-….-makaaaan! Kebayang ya?

Dengan begitu, ada waktu di mana saat kawan yang lain masih harus menggigit kulit kuacinya, kawan yang ini sedang dengan santainya makan satu per satu hasil usahanya  dengan tenang. 🙂

 

Begitu kali ya karakter kita….

Kerja-dapat duit-makan. Ini normal sekali. Tidak ada yang salah tentu dengan hal ini. Semboyan golongan ini, “kapan lagi menikmati? hidup cuma sekali!”. Hm… Bener juga. Ada orang-orang di golongan ini yang beruntung sekali, suatu kali dapat kerja yang menghasilkan cukup banyak. Dan di akhir dia tetap dapat dengan santai menikmati hidupnya. Sayangnya, harus diakui, kebanyakan orang di golongan ini akan terbelenggu dengan kerja dan kerja sepanjang hidupnya.

Golongan kedua, tipikal pekerja keras. Kerja dulu, mumpung masih muda. Kuliah dulu, nikah nanti mumpung masih bisa. Nanti tinggal nikmati. Karier sudah on top, duit sudah cukup, nikah pas sudah tua, dan di masa tua bisa tenang menikmati hasil kerja saat muda. Apesnya golongan ini, kalau umurnya tidak mengizinkan dia untuk sampai pada saat-saat menikmati itu. Golongan ini juga biasanya dianggap orang sekitarnya sebagai orang yang sangat ambisius -disamping pekerja keras.

 

Nah, kita masuk yang mana? 

Kecenderungan kita sekarang suka memilih tengah-tengah. Entah, karena memang bisa menjadi tengah-tengah, atau sekedar suka menghindari pilihan. *gigit kuaci*

waiting for you...