PIKIRAN

Ingatan

Di salah satu gerbong kereta pagi Jakarta yang penuh sesak, tiba-tiba… BRAK!!!

Seorang bapak roboh, terlihat kejang-kejang. Apa yang dilakukan orang-orang di kereta? Diam. Menonton.

Setelah beberapa waktu, bergerak beberapa orang mendekat dan mencoba memberi pertolongan.


Saya kira ceritanya cukup sampai di situ saja. Cukup sebagai alasan untuk bertanya, “kenapa kebanyakan orang di kereta itu hanya diam?”

Banyak kejadian lain yang mungkin akan memberikan penjelasan yang sama.

Di sebuah jalanan, seorang ayah sedang menggendong sambil asik mengajak ngobrol anaknya. Tanpa disadari keduanya, salah satu sandal anaknya jatuh. Beberapa orang di sana dipastikan melihat dengan jelas bahwa sandal anak itu jatuh. Tapi setelah beberapa saat, tidak ada yang bergerak untuk sekedar memberi tahu. Sampai ada seseorang yang memanggil dan mengejar Bapak itu sambil membawakan sandal si anak.

Pertanyaannya sama, “kenapa orang-orang yang lain itu seperti tidak peduli?”


Kita sering mendengar bahwa, “belajar tentang berenang tidak sama dengan belajar berenang.” Begitu juga banyak hal lainnya. Belajar tentang menolong, tidak akan sama dengan belajar menolong.

Buat yang jomblo-belum nikah mungkin pernyataan ini akan lebih mengena, “belajar tentang nikah, sama sekali tidak sama dengan menikah.


 

Ada satu penjelasan yang cukup menarik untuk disimak tentang hal ini. Ini tentang keberadaan sebuah ingatan selain ingatan otak. Ya, selama ini yang familiar buat kita hanya ingatan otak alias brain memory. Lupa, menurut kita adalah hilangnya ingatan otak kita tentang sesuatu. Tapi ini tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Apakah orang-orang di kereta dan di jalanan itu tidak peduli? Saya yakin sekali mereka peduli. Mereka ingin sekali menolong. Ingin sekali. Tapi kenapa?

Keberadaan teori tentang muscle memory bisa menjelaskan ini.

Muscle memory, ehm, literally, artinya ingatan otot. Untuk kenyamanan, saya memakai “ingatan tubuh” atau langsung muscle memory saja untuk selanjutnya.

Ingatan tubuh, imho, adalah apa yang telah terbiasa dilakukan oleh tubuh kita. Ingatan tubuh sama dengan kebiasaan? Bisa jadi. Yang jelas prosesnya adalah, tubuh kita melakukan hal baru – muscle memproses seperti otak memproses informasi – lalu kita jadi terbiasa melakukannya.

Bangun pagi selalu tepat di jam tertentu tanpa alarm adalah contoh sederhana yang cukup umum. Kita selalu menyebutnya sudah terbiasa. Para atlet bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana muscle memory ini bekerja. Mereka mempelajari keahlian dari nol. Mulai terbiasa. Akhirnya mereka menjadi ahli karena sudah terbiasa. Luar biasanya, sudah terbiasa ini juga bisa kita harapkan terjadi pada hal yang lebih kompleks dari sekedar bangun pagi dan bisa diterapkan oleh semua orang -tak hanya atlet.

Menolong, memberi, dan berinisiatif bisa dijadikan beberapa contoh yang memerlukan pembiasaan. Beberapa dari kita mungkin masih bisa mengingat betapa beratnya waktu pertama kali belajar memberi/sedekah-menolong-berinisiatif?

Pertama kali memberi mungkin kita membayangkan bahwa uang kita akan berkurang dan kita akan kekurangan. Pertama kali menolong mungkin kita diganggu keengganan, kekakuan, dan lain sebagainya. Pertama kali berinisiatif bisa jadi kita kebingungan harus mulai dari mana, apa yang harus dilakukan, dan lain sebagainya.

Tapi setelah terbiasa?
Kita melihat bukti bahwa ada orang-orang yang begitu dermawan, penolong, dan sangat suka berinisiatif. Hati-hati, setelah terbiasa, tapi kita lama tidak melakukannya, muscle memory ini juga bisa hilang. Ini lupa dalam pengertian lainnya. 🙂

 

waiting for you...