Ya, saya seorang pegawai negeri. Sebagai pegawai negeri, saya dihantui ketakutan tentang kebosanan. Dan harus saya akui bahwa saya cukup pembosan.
Selain itu, saya juga cukup sering bersentuhan dan mencoba berada dalam dunia usaha yang sangat dinamis. Beberapa kali saya mencoba menjual sesuatu saat kuliah. Beberapa kali gagal, beberapa kali sukses.
Begitulah gambaran saya tentang dunia pegawai negeri dan pengusaha.
Saya merasakan sendiri bagaimana rutinitas sebagai pegawai negeri, harus diakui, dalam beberapa keadaan saya merasa bosan. Di sisi lain, dari pengalaman dan ‘provokasi’ dari teman-teman yang sekarang menjadi pengusaha, saya mendapat gambaran betapa dinamis dunia usaha itu. Penuh tantangan, butuh insting, dan keberanian. Ah, sepertinya cocok sekali buat pembosan seperti saya.
Akhirnya saya sempat bingung.
Pegawai negeri bukannya profesi tanpa tantangan. Kalau kita bisa mengembangkan kompetensi, kita akan bisa sangat bermanfaat di sini. Lagian, kita sepertinya akan punya cukup waktu untuk pengembangan diri. Saya sendiri sudah mendapati bahwa banyak sekali bahan-bahan yang perlu dibaca dan keterampilan yang perlu diasah. Sedangkan untuk terjun ke dunia usaha yang begitu menarik itu, butuh trial and error. Bahkan trial and error inilah menariknya, menarik sekali.
Sampai ada obrolan tentang ini dengan istri saya. Saya ceritakan tentang betapa pembosannya saya, bagaimana potensi kebosanan sebagai pegawai negeri, dan betapa menariknya dunia usaha. Dan saya sampaikan pendapat saya bahwa orang pembosan seperti saya, mungkin, akan sangat cocok dengan dunia usaha.
Dia bilang,
Kalau Aa pembosan, justru tidak cocok dengan dunia usaha. Dunia usaha itu butuh konsistensi, gak boleh bosan. Kalau sebagai pegawai negeri, pas Aa bosan, Aa masih bisa melakukan hal lain di hari libur misalnya. Masih bisa sambil jualan kecil-kecilan kalau memang masih mau usaha juga. Tapi kalau udah terjun ke dunia usaha, terus bosan, mau makan apa pas bosan itu? Sudah, syukuri yang ada dulu. Ini pendapat adek, A…
Entah, saya merasa tenang dengan pendapat istri saya ini. Teman-teman pengusaha mungkin bilang di situ ada ‘ketakutan’ untuk terjun ke dunia usaha. Apapunlah itu. Hhe. Saya senang sekali mendapat sudut pandang baru, bahwa mungkin si pembosan ini (saya) memang lebih cocok di dunia pegawai negeri. Udah, itu aja.
I’m feeling blessed. 🙂
