Cerita 1.
Beberapa tahun silam di sebuah desa, ada seorang petani yang terlilit utang cukup banyak kepada seorang rentenir. Karena si petani tidak sanggup membayar hutangnya, maka rentenir memberikan penawaran kepada petani,
“Jika engkau mau menyerahkan anak gadismu menjadi istriku, maka hutangmu kuanggap lunas.”
Baik petani maupun anak gadisnya ketakutan mendengar tawaran yang diberikan si lintah darat.
Lintah darat mengatakan bahwa dia akan menaruh dua kerikil di dalam sebuah tas, yang satu warna hitam dan yang lain warna putih. Kemudian anak gadis petani harus mengambil salah satu batu dari dalam tas. Jika ia mengambil batu hitam maka ia akan menjadi istri rentenir dan utang ayahnya dianggap lunas. Tetapi jika ia mengambil batu putih, ia tidak perlu menikah dengan si lintah darat dan hutang ayahnya akan tetap dianggap lunas. Kalau ia menolak mengambil salah satu batu, ayahnya akan masuk penjara.
Mereka bertiga berdiri di atas hamparan batu-batu kerikil dekat ladang si petani. Sementara itu, si rentenir beranjak untuk mengambil mengambil dua buah batu kerikil. Anak gadis petani memperhatikan bahwa batu yang diambil si rentenir keduanya berwarna hitam. Setelah memasukan kedua batu ke dalam tas, ia menyuruh si gadis mengambil salah satu batu.
Bayangkan jika Anda adalah anak gadis petani itu, apa yang akan Anda lakukan?
Ada tiga kemungkinan yang bisa dilakukan anak gadis tersebut. Menolak mengambil batu; mengatakan secara terang-terangan kecurangan si lintah darat; atau pasrah mengambil batu hitam, menjadi istri rentenir dan hutang ayahnya lunas.
Tapi si gadis punya ide lain ternyata. Dia mengambil salah satu batu dan seakan tanpa sengaja menjatuhkannya diatas hamparan batu-batu lainnya, sehingga sulit menentukan batu warna apa yang telah diambilnya.
“Maaf aku lalai. Tetapi dengan melihat batu warna apa yang masih ada di dalam tas satunya, maka dapat dipastikan batu warna apa yang aku ambil dan jatuh tadi.” katanya.
Cerita 2.
Sebuah adegan dalam film klasik The Princess Bride tahun 1987, yang diadaptasi dari buku William Gooding, menggambarkan pahlawan Westley melawan Vizzini dalam sebuah pertarungan kecerdasan. Westley meletakkan dua gelas anggur di meja dan berkata bahwa ia telah menambahkan racun yang mematikan yang disebut bubuk iocane ke dalam salah satu gelas tersebut. Ia menantang Vizzini untuk memilih sebuah gelas.
‘Tapi itu sangat sederhana,’ ujar Vizzini. Ia pun melanjutkan:
‘Yang harus saya lakukan adalah menebak berdasarkan apa yang saya tahu mengenai Anda. Apakah Anda jenis orang yang akan menaruh racun ke dalam gelas Anda sendiri, atau gelas lawan? Sekarang, seseorang yang pintar akan menaruh racun ke dalam gelasnya sendiri, karena ia tahu hanya orang bodoh yang akan mengambil apa yang diberikan kepadanya. Saya bukan orang bodoh, jadi saya jelas tidak akan memilih anggur yang ada di depan Anda. Tetapi Anda pasti tahu saya bukan orang bodoh; Anda telah memperhitungkannya, jadi saya jelas tidak akan memilih anggur yang ada di depan saya.’
Pada akhirnya, mereka minum dari gelas masing-masing. Meskipun Westley memperingatkan Vizzini bahwa ia telah salah memilih, Vizzini yang diam-diam menukar gelas hanya tertawa dengan gembira.
Yang sebenarnya terjadi adalah Westley telah meracuni kedua gelas, karena ia telah memiliki imunitas terhadap bubuk iocane, sehingga Vizzini mati sementara sang pahlawan membebaskan Princess Buttercup.
Tidak ada cerita ketiga. 😀
Ini tentang salah satu unsur gagasan yang melekat, yaitu story. Jika diartikan secara harfiah, story akan berarti cerita. Jadi, salah satu cara jika Anda ingin apa yang Anda sampaikan diingat oleh orang lain, melekat di pikiran mereka, maka berceritalah. Ini cara paling efektif.
Kenapa cerita?
Karena dalam cerita, kita biasanya akan menemukan (hampir) semua unsur lain dari gagasan yang melekat. Cerita biasanya bisa membuat peta yang lebih sederhana dan konkret tentang masalah. Cerita juga bisa memberikan kita kejutan, biasanya berupa twist yang sangat menarik. Emosi pembaca/pendengar juga bisa kita pancing dengan cerita sehingga mereka merasa (perlu) terlibat dalam sebuah masalah. Dan biasanya, cerita tidak punya masalah kredibilitas, karena tokohnya ‘entah siapa’ yang tidak punya cacat kredibilitas dalam pandangan kita atau tokoh yang kita pilih memang kredibel. Semua itu akan mendukung gagasan yang disampaikan lewat sebuah cerita akan lebih mudah diingat.
Cerita pertama saya temukan di sebuah buku yang membahas tentang kreatifitas. Cerita itu ada di awal-awal buku tersebut, membuat saya tertarik untuk terus membaca. Dan jelas sekali bahwa cerita sependek itu memberikan saya gambaran tentang kreatifitas lebih dari beberapa lembar narasi tentang kreatifitas.
Terlepas dari subjektifitas saya, cerita kedua telah membuat buku ekonomi yang saya baca menjadi lebih menarik dan bahasannya menjadi lebih saya ingat. Cerita itu ada di buku ekonomi? Ya. Paragraf terakhir dalam teks aslinya masih saya cut sehingga masih terlihat seperti cerita murni. Ini kelanjutan paragraf penutup itu.
“…Film tersebut sekilas tampak seperti tidak ada kaitannya dengan ekonomi. Namun, kita baru saja mempertimbangkan sebuah contoh game theory yang sempurna.” Game Theory, dari Buku 50 Gagasan Ekonomi yang Perlu Anda Ketahui halaman 219.
Sekarang, mungkin Anda ingin mencoba mencari cerita untuk menyampaikan sebuah gagasan. Bahkan, setelah Anda melihat hasilnya, Anda akan ketagihan mencari cerita yang terkait dengan gagasan Anda.
Tapi tentu tidak selalu mudah menemukan cerita yang cocok dengan gagasan yang akan Anda bahas. Bahkan dalam kondisi tertentu justru sangat sulit, saya mengalaminya; kadang sulit sekali menemukan cerita yang benar-benar cerita seperti dua contoh di atas. Begitulah jika story hanya dimaknai dengan cerita.
Steve Jobs dalam beberapa presentasinya memberikan pemahaman baru tentang story. Ya, tidak hanya cerita. Dalam presentasinya saat peluncuran iPhone, Steve Jobs memberikan contoh pada kita bahwa story tidak harus dimulai dengan ‘pada suatu hari…’, ‘dari sebuah film…’, ‘ada cerita tentang…’, dan sebagainya. Story bisa berupa narasi sederhana dengan struktur: kondisi yang ada – masalah – solusi. Ya, sesederhana itu. Tentu ditambah dengan kepiawaian ‘bercerita’ yang bisa ditingkatkan dengan latihan.
Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas, Anda bisa menonton videonya di sini.
Jadi, setidaknya ada dua makna story, keduanya bisa digunakan agar apa yang kita sampaikan bisa melekat di benak orang lain. Semoga bermanfaat.
Mungkin ini akan bermanfaat. Beberapa buku yang jadi sumber ide tulisan ini: 1. Made to Stick, 2. Rahasia Presentasi Steve Jobs, 3. 50 Gagasan Ekonomi yang Perlu Anda Ketahui, dan 4. Kreativitas itu Dipraktekin.
