PIKIRAN

Sering Terlupa

 

Seberapa sering kita menengok kembali aktifitas kecil kita?

Jika aktifitas kecil itu tidak terlalu penting, tentu tidak perlu sering-sering menengok dan melihat adakah kekurangan di dalamnya. Menguap, misalnya, atau memakai baju biru setiap hari Senin ke kantor.

Tentu berbeda jika hal itu penting –penting sekali.

Misalnya makan dan minum kita. Tentu kita perlu menengok sesekali apa menu dan pola makan kita. “Apa yang Anda makan menunjukkan siapa Anda,” kata sebuah pepatah.

Apalagi?

Buat muslim, penting banget menengok kembali ibadahnya sehari-hari. Bagaimana niatnya, sudah sesuaikah fikihnya, adakah yang terlewat. Shalat, misalnya, sudah lima waktukah, sudah shalat sunnahkah, sudah benarkah gerakannya, adakah gerakan sia-sia yang justru membatalkan shalat kita.

Banyak lagi hal penting yang perlu ditengok lagi. Karena sekali suatu perbuatan -termasuk ibadah- menjadi ‘rutinitas’, kita cenderung lengah dengan hal-hal detil tapi penting di dalamnya.

Ada satu hal yang cukup sering terlewat -sepanjang yang saya amati. Fatalnya, ini adalah hal penting, penting sekali. Ini tentang wudhu. Eh bukan, tapi lebih detil lagi: batas bagian tubuh yang harus terbasuh ketika berwudhu. Sering terjadi, bagian yang harusnya basah malah tidak terkena air sama sekali. Karena ini ‘rutinitas’ kita setiap kali mau shalat, 5 kali dalam sehari, kita kadang kurang teliti. Ini penting karena jika ini tidak dipenuhi, wudhu kita tidak sah. Lalu bagaimana shalat kita?

Rasanya saya tidak akan membahas detil soal di mana saja batas wudhu itu. Selain karena keterbatasan ilmu, juga karena adanya kemungkinan fikih yang berbeda. Tapi secara umum, setahu saya beberapa bagian yang harusnya basah tapi sering terlewat itu antara lain: dagu bawah (sekitar jenggot), sela-sela jari, siku, dan tumit ke atas sampai mata kaki.

Hati-hati, semoga kita terus diingatkan.

*jika dalam tulisan di atas terdapat kesalahan dalam hal fikih yang secara umum 
telah disepakati, mohon sekiranya penulis diingatkan.

waiting for you...