PIKIRAN

Terpenting

Dikotomi alias pertentangan antara ilmu agama dan ilmu umum sudah bisa dianggap selesai sekarang ini. Sempat di jaman dahulu, orang-orang Indonesia merasakan semacam ketegangan antara dua ilmu ini, sampai ada beberapa kalangan yang alergi sekolah di salah satunya. Ketegangan mereda ketika muncul madrasah-madrasah berlabel ‘modern’ yang selain mengajarkan ilmu agama, juga mengajarkan ilmu umum. Sebaliknya, sekolah-sekolah umum pun mulai memasukkan mata pelajaran agama dan ekstrakurikuler keagamaan. Begitulah, bisa dibilang persoalan ini selesai.

Saya pun tidak bermaksud mengungkit lagi dikotomi tersebut. Kita sudah hidup nyaman dan berdampingan dengan damai dengan keadaan sekarang ini. Yang di pesantren-pesantren, dengan peci atau sarungnya, belajar matematika, kimia, dan fisika. Di sekolah atau kampus umum, (maha)siswanya ikut kajian tauhid, fikih, dan sebagainya. Kita juga masih bebas memilih bahkan untuk hanya fokus pada salah satunya. Masih ada pesantren-pesantren tradisional. Masih ada juga, (maha)siswa di sekolah umum fokus di studi wajibnya plus pelajaran agama yang masuk sebagai mata pelajaran/kuliahnya. Poin terakhir inilah yang akan coba saya bahas.

Yang perlu kita perhatikan, meskipun ketegangan di antara keduanya sudah selesai, tapi keduanya masih ada sebagai sesuatu yang terpisah. Keduanya tetap terpisah meski banyak yang berusaha menyatukan dan menghubung-hubungkan (meski, kadang memang sesungguhnya berhubungan). Nah, ketika terpisah inilah kadang kita menganggap kita benar-benar bebas memilih. Padahal sejatinya tidak begitu.

Salah satu kondisi yang membuat kita benar-benar bisa bebas memilih adalah ketika dua atau beberapa hal sama pentingnya. Jika ada yang lebih penting dari lainnya, menurut bagian  diri kita (entah logika, entah hati) yang paling dasar, kita akan memilih yang paling penting. Begitu juga soal ilmu ini.

Mari kita perhatikan.

“Barangsiapa yang diinginkan oleh Allah kebaikan pada dirinya, maka dia akan  dipahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari perhatikan lagi hadits di atas terkait kedudukan ilmu.

Sejatinya ini untuk mengingatkan diri saya pribadi. Saya sekolah selalu di sekolah umum, kecuali saat setingkat SMP. Lanjut ke kampus STAN, tentu bukan Sekolah Tinggi Agama Negara, tapi Akuntansi. Begitulah, ini pengingat pribadi bahwa, tetap, ilmu agama tak boleh ditinggalkan meski sedang berada pada kesibukan yang tidak ada hubungannya dengan agama.

Hadits di atas cukuplah menjadi satu alasan, tentu banyak lagi alasan lainnya. Orang yang diinginkan oleh Allah kebaikan, dialah yang paham urusan agamanya. Tapi, itu kan keinginan Allah, kalau Allah tidak ingin dan sekarang saya seperti ini -tidak paham agama- kan bukan salah saya?

Penting kita pahami bahwa ini pertanyaan ini sekedar ngeles. Ya, karena kita tahu bahwa dalam takdir yang sudah digariskan Allah swt, ada takdir-takdir yang sesuai dengan apa yang kita usahakan. Selain itu, kalau kita termasuk yang di dalam pikirannya muncul pertanyaan seperti itu, mungkin ada baiknya membaca cerita tentang bagaimana Ibnu Hajar menuntut ilmu. Cobalah dicari kalau belum pernah tau. 🙂

waiting for you...