Titip absen (TA) sebenarnya tentu tidak perlu didefinisikan lagi. Kita, mahasiswa -bahkan dosen, sepakat bahwa tindakan ini ada di kampus kita. Beberapa orang yang membaca tulisan ini bahkan mungkin pernah melakukannya dan beberapa waktu lalu sempat santer terdengar ada kasus TA yang tertangkap basah oleh dosen. Hanya saja, demi kesamaan persepsi, mari kita definisikan saja sebagai tindakan seorang mahasiswa(i) yang meminta temannya mengisi presensi untuk dirinya pada saat dia tidak bisa hadir dalam sebuah perkuliahan. Apabila yang terjadi adalah seseorang di dalam kelas berinisiatif mengisi presensi temannya yang tidak hadir tanpa diminta, hal tersebut di luar bahasan tulisan ini.
Seperti yang mungkin sudah dikira para pembaca, tulisan ini akan mengambil sikap menentang TA. Tetapi jangan dikira seperti tulisan-tulisan tentang moral lainnya, kemudian akan dikaitkan dengan kejujuran, integritas, korupsi, dosa, bahkan neraka. Tidak, dalam tulisan ini saya tidak akan menghubung-hubungkannya dengan integritas dan hal sejenisnya. Duh, ngeri saya. Takut saya langgar sendiri di kemudian hari. Selain itu, integritas adalah konsep yang terlalu gagah untuk dibahas oleh orang-orang lemah. Integritas itu konsep yang terlalu tinggi untuk dibahas oleh orang-orang yang berkomitmen rendah. Integritas merupakan konsep yang terlalu mewah untuk dibicarakan oleh orang-orang yang miskin kejujuran. Oh, ya, tiga kalimat terakhir ini tentu saja tentang saya, para pembaca tentu boleh membahas tentang integritas kapanpun.
Sampai di titik ini, saya ingin menyampaikan bahwa meskipun saya menentang TA, tetapi saya masih memberi ruang dalam diri saya untuk satu hal: pengecualian. Setiap mahasiswa, meskipun sampai saat ini belum pernah TA sama sekali, mungkin suatu saat akan harus atau butuh melakukan TA. Entah karena apa nantinya, akan datang saat tertentu yang menggoda sekali bagi seorang mahasiswa untuk melakukan TA.
Karena kemungkinan untuk pengecualian itu ada, saya mencoba mencari logika dibalik alasan-alasan yang biasanya menjadi trigger seorang mahasiswa melakukan TA. Saya menemukan setidaknya 3 (tiga) alasan yang biasa digunakan. Tentu saja tulisan pendek ini tidak akan cukup menampung semua alasan manusia, bukan?
- Males, dosennya gak asik.
Variasinya banyak; “males aja”, “males, ada si A di kelas matkul itu”, “iseng, pengen tau rasanya”. Nah salah satu di antara variasinya adalah malas masuk kelas karena dosennya. Gak asik itu definisinya luas, jadi bisa digunakan di berbagai kondisi. Ini menarik untuk dibahas, karena “malas” itu dimensinya di dalam diri sendiri, tetapi dalam hal ini sambil menyalahkan orang lain yaitu seorang dosen.
Pertama, malas itu manusiawi sekali, itu perasaan yang bisa datang kepada siapa saja. Kedua, memang tidak semua dosen sesuai harapan kita. Jadi, alasan ini logis, dong?
Tetap saja tidak logis kalau hanya karena itu sampai harus TA. Malasnya satu semester penuh? Kalau tidak, silakan manfaatkan jatah bolos 25% itu. Sisanya, hadapi mata kuliah tersebut dan dosennya. Let me tell you, dosen gak asik adalah salah satu ujian hidup yang paling ringan. Kalau itu aja gak sanggup, duh, dunia itu keras, pek.
- Kondisi serius.
Kondisi serius di sini adalah kondisi semacam sakit berat, kecelakaan, atau saat jatah bolos sudah habis, ada acara/kejadian dalam keluarga yang begitu penting/genting. Logiskah TA dengan alasan ini?
Dua kondisi pertama tentu saja tidak logis karena sangat mudah mendapatkan izin/dispensasi. Sementara itu, cukup sulit untuk tegas mengatakan tidak logis dalam kondisi ketiga, jatah bolos telah habis, sementara ada acara/kejadian penting/genting di dalam keluarga. Sulit karena harus dilihat per case dan tidak semua dosen bisa memaklumi kepentingan kita saat kita mencoba bicara dan minta izin baik-baik.
Kalau kondisinya segenting orang tua meninggal atau harus dilarikan ke rumah sakit saat bersama kita, tentu tidak perlu TA. Asal bisa dibuktikan, izin/dispensasi mudah didapat. Berbeda halnya ketika kondisinya hanya pada level penting di dalam keluarga kita, siap-siap saja diinterogasi soal habis untuk apa jatah 25% itu sebelumnya kalau kita berusaha mencoba komunikasi dengan dosen. Dalam kondisi ini saya cuma bisa memberikan saran preventif: jangan pernah habiskan jatah 25% tanpa perhitungan matang. Meskipun saya dalam hal ini tidak berani mengatakan bahwa tetap tidak logis TA dalam kondisi seperti ini, bukan berarti saya bilang logis.
- Sibuk organisasi.
Alasan ini biasanya ditambah dengan kalimat, “pelajaran di kelas tidak lebih berharga dari yang kami dapat di dunia nyata.” Terlihat gagah sekali memang alasan yang satu ini, apalagi kalau diucapkan seseorang yang telah malang melintang di dunia aktivis.
Hal pertama yang perlu diluruskan adalah “kelas” merupakan dunia nyata juga. Oke? Kedua, konsep “lebih berharga” itu terlalu relatif dan sifatnya doktrinasi. Saya tidak akan menggunakan argumen kamu dibiayai orang tua ke kampus itu buat kuliah, bukan buat organisasi. No. Argumen seperti itu tetap saja merupakan doktrinasi. Padahal sebagai mahasiswa kita harus kritis terhadap semua doktrin-doktrin dalam kerangka sikap ilmiah.
Silakan berorganisasi, memang banyak kebaikan-kebaikan yang bisa diambil. Tapi, jangan menjalani hidup dengan doktrin “A lebih baik daripada B”, “X lebih mending daripada Z”, atau sejenisnya padahal hal yang dibandingkan adalah hal yang sama baik/buruknya. Ini juga tentu jadi pe-er bersama dalam merawat dunia aktivis kemahasiswaan agar terus lebih baik, salah satunya meninggalkan doktrinasi macam itu untuk menggaet junior-junior agar kepincut dengan dunia aktivis. Harus diakui, sekali lagi, kalimat itu akan terdengar keren dan terlihat gagah ketika diucapkan oleh seorang senior yang malang melintang di dunia aktivis. Tapi, non sense!
Sampai di sini, saya belum menemukan hal logis di balik alasan untuk TA. Ada alasan lain yang mau dicoba untuk dicarikan logikanya? Silakan tulis di kolom komentar. 🙂
tulisan ini diikutsertakan dalam lomba "Nawaksara Essay Competition dan alhamdulillah meraih juara pertama.