CURHATAN

Cerita Membaca


Sejak kapan kita membaca? Eh, maksud saya lebih rajin membaca? Eh, relatif ya? 🙂

Iya, memang sangat relatif untuk mengingat kembali dan menentukan kapan kita mulai (lebih rajin) membaca. Membaca di luar buku-buku wajib di sekolah atau di kampus. Karena relatif, semua ini akan sangat berkaitan dengan ‘merasa’.

Saya sendiri merasa mulai (lebih rajin) membaca itu usia SD. Entah kelas berapa. Yang pasti waktu itu rajin-rajinnya baca buku cerita. Yang paling saya ingat dua buku, lupa judulnya. Satu tentang perjuangan tentara di jaman belanda. Satunya, tentang kisah Nabi dan Rasul. Buku yang kedua ini yang paling berkesan, soalnya pas udah gede dan mulai konsen baca dan belajar Quran, ketemu lagi sama semua kisah yang ada di buku itu. Ooooh, ada di Quran toh!

Tapi, namanya juga anak SD, di kota kecil lagi. Kehabisan bahan bacaan yang disukai. Ya, yang disukai abis, gak mau baca lagi. Bocah.

Seingat saya habis itu sampai lulus MTs, saya tidak lagi membaca buku di luar pelajaran sekolah. Kalau pun ada, saya lupa. Suram sekali ya.

Baru saat SMA mulai lagi. Saya melihat kenapa saya mulai membaca lagi ini karena dua sebab. Pertama, karena memang mulai butuh. Anak usia SMA, mulai mencari. Kedua, karena waktu luang yang bertambah. Saat MTs, pelajaran di sekolah double. Materi SMP plus keislaman. Belajar buku agama yang pake bahasa Indonesia saja sudah menyita waktu lebih dibanding kawan-kawan di SMP. Ini buku yang digunakan buku berbahasa arab. Akhirnya, belajar bahasa arab mulai dasar (karena dari SD) menyita waktu tersendiri. Alasan kedua ini sepertinya yang menurut saya paling berpengaruh dalam memulai lagi membaca. Waktu kosong, ngapain lagi? Waktu itu saya introvertnya masih kuat banget. Hha.

Buku pertama yang dibeli waktu SMA?
Kurang terkenal bukunya, Berpikir Positif untuk Remaja. Ada yang tahu buku itu? Saya sendiri lupa penulisnya. Yang jelas beliau seorang pendeta. Ini buku reliji menurut saya. Hha. Dalil berpikir positifnya dari alkitab semua! Tapi tetep ludes dibaca. Kawan-kawan juga gantian pinjem dan baca. Bersyukur sekali waktu itu lulus dari MTs, sedikit banyak tahu bahwa, dalil-dalil seperti itu di Quran juga ada.

Setelah itu keranjingan membaca. Konsekuensinya adalah jadi agak sering beli buku. Minta uang sama orang tua. Beli buku.

Kondisinya, keuangan keluarga kurang mendukung. Ayah kandung saya sudah meninggal sejak saya kelas 5 SD. Pegawai Dinas Kesehatan dulunya, ada uang pensiunan tiap bulan. Ibu, guru SD. Dulu belum ada TPG alias ‘sertifikasi’. Ayah tiri, pensiunan guru SD. Adek dua. Hha. Jadilah setiap saya minta uang beli buku saat itu, ibu agak berat ngasihnya. Apalagi kalau saya mintanya gak tahu waktu, tiba-tiba saya beli buku. Ibu suka bilang, “kalau lapar, kamu makan buku aja ya.”

Aduh.

Tapi saya tetep suka beli buku. Beli ya. Hhe. 

Ibu akhirnya menyerah dengan kekeraskepalaan anaknya ini. Sampai pada suatu akhir masa perkuliahan, ada waktu kosong antara ujian terakhir dan magang/PKL, sekitar 2 minggu. Waktu itu tiba-tiba saya suka baca novel. Sebelumnya, cuma satu novel yang saya mau baca, Ayat-Ayat Cinta. Hha. Waktu masih jadi anak SMA -.-

Nah, waktu itu lagi kambuh-kambuhnya tuh baca novel. Dua minggu, sekitar 14 novel saya selesaikan. Dan sebagian besarnya beli. Ibu di rumah bingung, tiba-tiba realisasi anggaran uang saku naik. Hha. Ampuni anakmu, Bu. Tapi ibu akhirnya tahu pas saya pulang kampung setelah selesai kuliah 3 tahun. Saya harus bayar ekstra bagasi pesawat sampai 250ribu. Gak mahal sih per kilonya, 10ribu kalo gak salah. 

—-

Alhamdulillah…
Dapet istri yang suka baca juga.

Alhamdulillah
Menemukan usaha yang paling sesuai passion juga; jualan buku!
Setelah sebelumnya nyoba jualan macem-macem; kaos, flashdisk, kurma, bahkan pernah mau jualan kambing dan sapi kurban. hha.

PIKIRAN

Like Father, Like Son

Ada sebuah cerita yang saya dengar setelah shalat Ashar tadi….

“Kejadian ini dialami Dr Arun, cucu mendiang Mahatma Gandhi, saat usianya masih 16 tahun. Keluarganya tinggal di sebuah perkebunan tebu yang berjarak sekitar 28 km dari kota Durban, Afrika Selatan. Rumah mereka berada di pelosok desa terpencil.

Suatu hari, ayahnya meminta Arun menemaninya ke kota untuk menghadiri suatu konferensi. Permintaan ini disambut dengan sangat antusias (karena itu berarti ia bisa jalan-jalan di pusat kota). Setelah mengantar sang ayah, Arun juga diminta membawa mobil ke bengkel untuk diperbaiki. Dan setelah itu, Arun disuruh untuk menjemput sang ayah di tempat konferensi.

Nah, selagi menunggu perbaikan mobilnya, Arun pergi ke bioskop. Tapi saking asyiknya menonton film-film John Wayne, ia lupa waktu! Begitu sadar, ia pun segera mengambil mobil di bengkel lalu menjemput ayahnya yang sudah menanti selama hampir satu jam.

Sewaktu ditanya alasan keterlambatannya, Arun berbohong karena merasa sangat bersalah dan malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Kata Arun, ‘Tadi mobilnya belum selesai diperbaiki, jadi Arun harus menunggu.’

Sayangnya tanpa sepengetahuan Arun, sang ayah sebelumnya sudah menghubungi bengkel mobil itu, sehingga sang ayah tahu kalau putranya itu berbohong.

Dengan wajah sedih sembari menatap anaknya, sang ayah berkata, ‘Arun, sepertinya ada yang salah dengan cara ayah mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tidak berani bicara jujur pada ayah. Atas kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki. Dengan begitu, ayah bisa merenungkan di mana letak kesalahan ayah.’

Betapa Arun menyesali perbuatan bodohnya itu. Sejak kejadian itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi berbohong kepada siapa pun. Ia sadar, betapa berharganya pelajaran yang diberikan sang ayah waktu itu. Seandainya saat itu beliau menghukumnya seperti yang dilakukan orangtua pada umumnya ketika menghukum anaknya, ia mungkin akan menderita atas hukuman itu dan sedikit saja menyadari kesalahannya. Namun, tindakan evaluasi diri sang ayah yang tanpa kekerasan itu justru memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah diri Dr Arun sepenuhnya.”

—-

Sebelum Ashar….

Saya bercerita pada ibu tentang kebingungan saya menemani istri yang sedang hamil muda. Terutama soal mual dan susahnya istri saya makan. Apa kandungannya akan sehat saja dan tidak akan kekurangan nutrisi? 

“Santai saja. Begitulah ibu hamil muda. Ibu juga dulu begitu, malah gak pengin makan sama sekali. Soal nutrisi jangan terlalu khawatir. Sekarang janin itu masih berbentuk segumpal daging, kok. Nanti akan ada masa saat bayi sudah berbentuk, waktu itu justru ‘kurang nasi’nya. Ibu akan doyan makan. Itulah masa janin butuh nutrisi. Tetapi, meskipun sekarang asupan nutrisi kurang, ada asupan lain yang tidak boleh kurang. Sekarang, saat yang juga sangat menentukan, bagaimana anakmu nanti. Kalau ayahnya pemarah, sangat mungkin nantinya anaknya pemarah. Kalau ayahnya rajin ngaji, tahajjud, sangat mungkin dan semoga nanti anaknya juga rajin ngaji, shalat, tahajjud.”

Mungkin ada yang bilang kurang ilmiah ya? Tapi begitulah kira-kira nasihat ibu saya.

—-

dan tadi pagi…

Sambil naik motor saat berangkat ke kantor, saya sempet mbrebes mili sendiri karena teringat anak yang sedang dikandung istri saya. Saya takut sekali, kalau sifat-sifat jelek saya yang banyak sekali ini, dimiliki anak saya. Sampai-sampai saya berniat untuk merutinkan doa untuk meminta agar sifat-sifat jelek saya tidak turun pada anak saya dan dibanyakkan sifat-sifat baiknya. 

Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa qurrata a’yunin waj’alna lil muttaqiina imaamaa.


—-
*cerita tentang dokter Arun, saya ambil dari postingan Pak Andrie Wongso, yang sebelumnya cerita itu saya dengar saat kultum ba’da Ashar di masjid Al-Amanah, DJPB, Kemenkeu.

PIKIRAN

OJT Kementerian Keuangan dan Hadits Halal-Haram (1)

Kawan-kawan, bagaimana kabar OJT-nya? Semoga lancar ya. InsyaaLlah dalam kesempatan ini kita akan ngobrol seputar kegiatan kita sekarang. Ini tentang hadits arba’in ke enam dan relevansinya dengan apa yang sekarang sedang dan nanti kita jalani. Buat kawan-kawan lintas pekerjaan dan lintas peran, semoga membaca ini tetap bisa memberikan manfaat. 


Dalam al-Wafi, dikatakan bahwa hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ini adalah landasan pokok dalam syariat Islam. Bahkan Abu Daud berkata, “Islam itu berputar pada empat hadits, dan hadits ini adalah salah satunya.” Mari kita bahas sedikit demi sedikit sambil melihat relevansinya dengan dunia kerja kita.

Kita akan langsung ke terjemahan haditsnya saja. Sedangkan kalau ada kawan-kawan yang ingin mengetahui matannya, bisa langsung merujuk ke al-Wafi atau kumpulan hadits arba’innya Imam Nawawi. Atau, jangan- jangan sudah pada hafal? BarakaLlah…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang subhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak….


Sampai di sini, sepertinya sungguh sangat jelas.

Brothers, gaji kita itu halal, jelas. Tunjangan apapun yang kita dapat dengan cara yang sah itu halal, jelas. Atau, ketika nanti kita dinas luar, ada tunjangan yang sah, itu halal. Jelas? Semoga harta kita diberkahi.

Adapun yang haram juga jelas. Suap dari wajib pajak atau wajib bayar, jelas haram. Mark up tiket buat DL, jelas haram. Membuat kuitansi fiktif, haram. Jelas? Semoga kita dikuatkan.

Nah, kata mentor saya, kalian itu kalau soal halal dan haram yang sebegitu jelasnya, insyaaLlah tidak perlu diragukan lagi bahwa kalian sudah mengerti. Tinggal taufiq dari Allah yang menguatkan kita untuk mencukupkan diri dengan yang halal dan menjauhi yang haram.

Tantangan selanjutnya adalah, kita tahu bahwa antara hitam dan putih , ada warna abu-abu. Begitupula soal halal dan haram ini. Ada perkara syubhat. Perkara yang kita tidak terlalu yakin, itu halal atau haram. Perkara yang kita ragu, halal atau haramkah ini? Perkara yang kita bingung, ini boleh diterima atau tidak?

Di sinilah ada peluang munculnya pembenaran-pembenaran. Kerennya lagi perangkap ini, di setiap instansi ujiannya akan berbeda sehingga teman untuk diskusi pun jadi terbatas. Anggaplah suatu saat kita menerima uang entah dari mana. 

Kita bisa jadi akan bingung, ketika diskusi dengan teman satu instansi yang tahu betul seluk beluk masalahnya secara birokrasi mengatakan bahwa apa yang kita terima itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya. Tapi ketika kita tanyakan kepada teman yang sebenarnya pengetahuan agamanya lebih mumpuni, tapi pengetahuannya secara birokrasi di instansi kita kurang, dia justru mengatakan bahwa kita wajar saja menerima hal itu.

Maka, berhati-hatilah. Temukan kawan yang bisa saling mengingatkan. to be continued…

Kita perlu kawan-kawan yang saling mengingatkan. Karena yang sendirian, pasti tak kuat saat serigala menerkam.