PIKIRAN

Satu Hikmah dari STIQ (Sekolah Tinggi Ilmu Quran) Amuntai

Beberapa waktu lalu, saya berhasil menyusup di salah satu kelas bahasa Arab semester I, STIQ Amuntai. Saya pribadi memang tertarik dengan bahasa ini, sedang berdoa mudah-mudah bisa menyusup lagi di kelas fiqhul lughah di kampus yang sama. Untuk sementara, mari saya ceritakan dulu pengalaman di kelas bahasa Arab ini.
 

Di antara bahasan Nahwu, dosennya menuliskan beberapa kombinasi pola kata yang mungkin digunakan dalam kalimat bahasa Arab. Sambil menandai kombinasi terakhir yang beliau tulis, “inilah kombinasi yang bernilai sastra paling tinggi,” kata beliau.

Setahu saya, dua surah dalam alQuran yang paling banyak dan sangat terlihat menggunakan pola ini adalah surah atTakwir dan alInfithar. Saya tentu tidak kapabel menuliskan kombinasi tersebut di sini. Selain karena tujuan menulis ini bukan untuk berbagi tentang bahasa Arab, tapi tentang Quran.

Yang penting diperhatikan adalah, bahwa siapapun yg telah belajar bahasa Arab, akan bisa dengan mudah membuat kalimat dengan pola kombinasi bernilai sastra paling tinggi ini. Hm? Lalu, semua orang berarti bisa meniru pola bahasa Quran?

Tentu tidak.

Pertama, sehebat apapun penguasaan bahasa Arab seseorang, selihai apapun dia menggunakan pola ini, tetap tidak bisa menandingi kekuatan dan keindahan kalimat Quran. Okelah polanya dapat, tapi kekuatan kalimat dan keindahan itu hal yang lain lagi. Baru kalimatnya lho ya. Makna? Jauuuuh.

Kedua, kalau ada yang bisa membuat kalimat yang menyamai keindahannya pun -tapi sudah pasti tidak bisa, tak akan ada yg bisa membuat kalimat dengan pola ini sebanyak yang digunakan dalam alQuran, seindah susunan alQuran, setepat alQuran, tanpa kesalahan sama sekali seperti dalam alQuran. Kalau satu juz dalam alQuran itu ada 10 lembar a.k.a 20 halaman, maka total ada 300 lembar atau 600 halaman yang di dalamnya tersebar pola kalimat bernilai sastra tertinggi ini. Dengan penggunaan paling tepat, paling indah, tanpa cacat. Satu kalimat saja tidak mampu, 600 halaman -per halaman 15 baris? Nah, pada perkara ini kalimat “impossible is nothing” tidak berlaku. Jangan coba-coba curang memperbesar tulisan tangan agar cepat menembus target 600 halaman. Hha 🙂

Ini baru satu dari sekian banyak faktor kenapa alQuran tetap murni. Tidak tercampuri dengan kalimat2 yg lahir dari rahim akal kita -manusia- yg lemah ini.

Baru satu saja sudah tidak ada alasan lagi untuk meragukan kebenaran dan kemurnian alQuran. Yang terpenting, meski nilai sastranya sangat tinggi, Quran bukan kitab sastra. Karena jelas, alQuran diturunkan bukan untuk sekedar bermanis-manis kata, tapi pengingat bagi manusia yg mau berpikir.

————————————————————————————————————-
“dan jika kamu meragukan apa yang telah Kami turunkan (alQuran) kepada hamba Kami (Muhammad) maka buatlah satu surah (saja) yang semisal dengannya dan panggillah para penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.

“dan jika kamu tidak sanggup, dan kamu pasti tidak akan sanggup, maka takutlah akan neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (neraka itu) telah disiapkan untuk orang-orang yang ingkar.” (alBaqarah 23-24)

CURHATAN

Doa

semoga terlindung dari,

merasa benar sampai menolak kebenaran,
juga dari menganggap semua pendapat adalah benar sampai tak punya pegangan standar kebenaran dan gagap memilih sikap

terlalu keras berpendapat sampai membuat orang lari dan patah harapan, juga dari terlalu lemah hanya demi menyenangkan semua orang, sebuah harapan semu

terlalu keras bersikap sampai tak ada yang mau mendekat, juga dari terlalu toleran sampai menabrak batasan, tak rukun dengan sesama, mesra dengan yang di luar agama

membesar-besarkan perbedaan, juga dari menafikan perbedaan sampai mencampurkan yang benar dan yang bathil

semoga terlindung dari berlebihan dalam bersikap…

CURHATAN

pilihan -selftalk

Kamu tahu, setiap orang punya takdir yang harus dijalani. Takdir yang menuntunnya pada pilihan dan takdir lain atas pilihannya itu. Kamu orang, bukan? Artinya, kamu juga memiliki keduanya. Takdirmu dan pilihanmu.

Perbedaan mendasar dari keduanya adalah kau tidak bisa tahu takdirmu. Tetapi kau bisa menentukan pilihanmu. Pilihan yang dengan pertimbangan logismu bisa mengantar pada takdir yang lebih baik. Setiap pilihan itu memiliki konsekuensi. Karena pilihan berarti mengambil, maka ada konsekuensi meninggalkan yang tidak kau pilih.

Pilihan itu menuntut konsistensi. Konsisten mengambil, konsisten meninggalkan. Susah memang, karena ketika kita menentukan pilihan sendiri, kita akan terus melihat bagaimana orang lain mengambil pilihannya masing-masing. Kamu tahu pepatah tentang rumput tetangga, bukan? Begitulah, kadang pilihan orang lain menggodamu. Terlihat lebih baik, lebih menguntungkan, dan lebih “wow!”.

Apalagi di jaman seperti sekarang. Semua orang berlomba menyampaikan pilihannya –mungkin sambil tidak sadar. Social media, blog, televisi, membuat mata kita semakin terbuka pada pilihan-pilihan orang lain. Bahkan bisa membuat pilihan-pilihan orang lain itu terlihat makin baik, makin menguntungkan, dan makin “wow!”.

Parahnya, semua itu bisa membuatmu lupa bahwa ketika kamu telah memutuskan untuk memilih ini, kamu telah menganggapnya sebagai pilihan paling baik, paling menguntungkan, dan paling “wow!” -mungkin dari sisi yang berbeda. Konsistenlah, meski konsisten bukan berarti tak boleh mengubah arah. Karena konsisten bukan pada arah atau gerak, tapi pada nilai. Kamu tentu tahu di mana bisa menemukan tolak ukur paling pas untuk nilai paling baik, paling menguntungkan, dan paling “wow!”.

Sekian dan terima koprol.