Tak perlu diingkari bahwa betapapun kita berusaha tidak mengeluh, bahkan bersyukur atas hadirnya hujan, kita tetap saja kerepotan dibuatnya. Setidaknya dengan pakaian yang basah, kendaraan yang selalu kotor, dan jemuran yang tak sempat diangkat. Anda pasti juga punya kerepotan sendiri ketika hujan turun.
Indah sekali memang jika kita bisa menyikapi hujan seperti kita bisa bersikap pada musim hujan dan mendung. Loh beda ya? Perhatikanlah.
Saya sendiri, untuk berangkat dan pulang kerja butuh waktu total dua setengah jam. Di musim panas, saya lebih cepat mengeluh tentang kemacetan. Tapi saat musim hujan, saya lebih mudah bersyukur. Asal tidak hujaaan saja, alhamdulillah. Kalau ada bonus tidak macet juga, wah luar biasa bersyukurnya.
Kalau pas mau pulang kantor dan di perjalanan langit sedang cerah, tidak bisa dipungkiri bahwa kemacetan lebih menjengkelkan. Sampai di rumah dengan selamat saja, mengeluhnya masih luar biasa. Beda saat mendung. Sampai di rumah dengan tidak kehujanan saja, sudah bersyukur. Kemacetan kan sudah tiap hari, gak jadi fokus lagi. Fokusnya cuma berdoa semoga tidak hujan saja. Kan….
Setiap orang pasti punya pengalamannya sendiri….
Di rumah, mungkin ada ibu-ibu yang jengkel sekali kalau mendung tepat setelah beliau nyuci. Baru mendung loh, tapi waktu itu musim panas. Pas musim hujan, asal tidak kehujanan saja jemurannya, sudah bersyukur.
Yang unik adalah anak-anak. Musim panas, lalu ada hujan, senang sekali. Musim hujan, makin girang mereka. Itu mereka alami selama mereka punya orang tua yang tidak terlalu khawatir kalau sesekali anaknya bermain hujan. Apalagi kalau mereka punya orang tua yang masih suka ikut mereka hujan-hujanan.
Nah, jadi ke mana-mana…
Kalau pun akhirnya kita tidak bisa bersikap pada hujan seperti kita bersikap pada musim hujan dan mendung, setidaknya kita bisa berpikir hal lain. Berpikir dengan cara yang membuat kita lebih bisa menerima hujan.
Orangtua kita dari dulu sudah mengajarkan kita kearifan tentang hal ini. Misalnya tentang betapa perlu kita berpikir bahwa para petani butuh sekali hujan ini.
Tapi, tapi, sekarang kan petani kehilangan sawahnya juga karena banjir?
Ah iya, setidaknya kita masih bisa mendengar alangkah bahagianya kodok saat hujan turun.
Tapi ini jakarta bro, gak ada suara kodok pas hujan. Adanya suara klakson!
Category: PIKIRAN
(Salah Satu) Trik Habiskan Jatah #ODOJ
Langsung saja 🙂
Yang pernah saya rasakan, berat sekali menargetkan 2 lembar setiap kali shalat dengan harapan khatam ba’da isya. Apalagi khatam dalam sekali duduk. Berat sekali. Kebayang, berapa lama waktu yang akan dihabiskan. Berapa banyak ‘hal produktif lain’ yang bisa saya lakukan. Berapa lama saya bisa istirahat di antara kesibukan kantor. Semua “berapa lama” itu akan berlangsung selama saya harus tilawah 2 lembar atau 10 lembar? Oh, tidak! Mending saya melakukan hal lain dulu. Tilawah nanti saja saat benar-benar lowong dan badan segar. Iya bener, sekarang baca tulisan ini dulu deh.
Itu yang pernah terjadi pada saya. Itu juga yang membuat saya berpikir, ada yang harus saya ubah soal target ini. Akhirnya saya bertanya pada diri saya sendiri.
“Berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan membaca satu halaman?”
Saya cek sendiri, sekitar 1 menit kurang. Saya belum puas. Saya amati murattalnya Syekh favorit saya, Syekh Mahir al Muayqali. Beliau membaca halaman ketiga juz 1 dalam 1 menit 10 detik. Ya, beliau butuh waktu lebih lama dari saya, selain bacaannya pelan, mad jaiznya juga 6 harakat, full.
Dari pengecekan itu saya berpikir, saya harus mengganti target saya. Bukan membaca 2 lembar setelah shalat. Tapi, tilawah 5 menit saja setelah shalat! Ya, tidak boleh tutup mushaf sebelum 5 menit! Tapi saya tetap membuat keringanan untuk diri saya. Tidak mengapa jika akhirnya tidak sampai 2 lembar dalam lima menit itu. Silakan beranjak kalau memang ada keperluan.
Alhamdulillah triknya berhasil.
Kalau masih ada yang merasa berat juga menyelesaikan jatah ODOJ-nya, silakan motivasi diri kita sendiri. Misalnya bilanglah pada diri sendiri, “masa setiap 2 jam tidak bisa meluangkan 5 menit saja untuk tilawah?”
Atau, “zalim sekali saya bisa ngeklik link, kemudian baca tulisan ini, sampai pada bagian ini, butuh waktu lebih dari 5 menit satu detik, sementara untuk tilawah tak bisa?”
Yang terakhir ini personal sekali, silakan sesuaikan masing2. 🙂
BarakaLlahu lana…
Like Father, Like Son
Ada sebuah cerita yang saya dengar setelah shalat Ashar tadi….
“Kejadian ini dialami Dr Arun, cucu mendiang Mahatma Gandhi, saat usianya masih 16 tahun. Keluarganya tinggal di sebuah perkebunan tebu yang berjarak sekitar 28 km dari kota Durban, Afrika Selatan. Rumah mereka berada di pelosok desa terpencil.
Suatu hari, ayahnya meminta Arun menemaninya ke kota untuk menghadiri suatu konferensi. Permintaan ini disambut dengan sangat antusias (karena itu berarti ia bisa jalan-jalan di pusat kota). Setelah mengantar sang ayah, Arun juga diminta membawa mobil ke bengkel untuk diperbaiki. Dan setelah itu, Arun disuruh untuk menjemput sang ayah di tempat konferensi.
Nah, selagi menunggu perbaikan mobilnya, Arun pergi ke bioskop. Tapi saking asyiknya menonton film-film John Wayne, ia lupa waktu! Begitu sadar, ia pun segera mengambil mobil di bengkel lalu menjemput ayahnya yang sudah menanti selama hampir satu jam.
Sewaktu ditanya alasan keterlambatannya, Arun berbohong karena merasa sangat bersalah dan malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Kata Arun, ‘Tadi mobilnya belum selesai diperbaiki, jadi Arun harus menunggu.’
Sayangnya tanpa sepengetahuan Arun, sang ayah sebelumnya sudah menghubungi bengkel mobil itu, sehingga sang ayah tahu kalau putranya itu berbohong.
Dengan wajah sedih sembari menatap anaknya, sang ayah berkata, ‘Arun, sepertinya ada yang salah dengan cara ayah mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tidak berani bicara jujur pada ayah. Atas kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki. Dengan begitu, ayah bisa merenungkan di mana letak kesalahan ayah.’
Betapa Arun menyesali perbuatan bodohnya itu. Sejak kejadian itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi berbohong kepada siapa pun. Ia sadar, betapa berharganya pelajaran yang diberikan sang ayah waktu itu. Seandainya saat itu beliau menghukumnya seperti yang dilakukan orangtua pada umumnya ketika menghukum anaknya, ia mungkin akan menderita atas hukuman itu dan sedikit saja menyadari kesalahannya. Namun, tindakan evaluasi diri sang ayah yang tanpa kekerasan itu justru memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah diri Dr Arun sepenuhnya.”
—-
Sebelum Ashar….
Saya bercerita pada ibu tentang kebingungan saya menemani istri yang sedang hamil muda. Terutama soal mual dan susahnya istri saya makan. Apa kandungannya akan sehat saja dan tidak akan kekurangan nutrisi?
“Santai saja. Begitulah ibu hamil muda. Ibu juga dulu begitu, malah gak pengin makan sama sekali. Soal nutrisi jangan terlalu khawatir. Sekarang janin itu masih berbentuk segumpal daging, kok. Nanti akan ada masa saat bayi sudah berbentuk, waktu itu justru ‘kurang nasi’nya. Ibu akan doyan makan. Itulah masa janin butuh nutrisi. Tetapi, meskipun sekarang asupan nutrisi kurang, ada asupan lain yang tidak boleh kurang. Sekarang, saat yang juga sangat menentukan, bagaimana anakmu nanti. Kalau ayahnya pemarah, sangat mungkin nantinya anaknya pemarah. Kalau ayahnya rajin ngaji, tahajjud, sangat mungkin dan semoga nanti anaknya juga rajin ngaji, shalat, tahajjud.”
Mungkin ada yang bilang kurang ilmiah ya? Tapi begitulah kira-kira nasihat ibu saya.
—-
dan tadi pagi…
Sambil naik motor saat berangkat ke kantor, saya sempet mbrebes mili sendiri karena teringat anak yang sedang dikandung istri saya. Saya takut sekali, kalau sifat-sifat jelek saya yang banyak sekali ini, dimiliki anak saya. Sampai-sampai saya berniat untuk merutinkan doa untuk meminta agar sifat-sifat jelek saya tidak turun pada anak saya dan dibanyakkan sifat-sifat baiknya.
Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa qurrata a’yunin waj’alna lil muttaqiina imaamaa.
—-
*cerita tentang dokter Arun, saya ambil dari postingan Pak Andrie Wongso, yang sebelumnya cerita itu saya dengar saat kultum ba’da Ashar di masjid Al-Amanah, DJPB, Kemenkeu.


