![]() |
| sumber |
Mari Pilih dan Doakan Para Pemimpin dan Wakil-Wakil Kita….
| sumber |
Ada skeptisme dalam diri masyarakat terhadap DPR dan lembaga politik pada umumnya. Ini tidak baik. Harus diakui bahwa tingkah laku anggota DPR lah yang membuat ini terjadi. Tapi sebenarnya, porsi kita sebagai masyarakat adalah mengawasi, menilai, memberikan masukan, mengkritik, dan sebagainya pada para anggota dewan yang terhormat. Sedangkan membawa skeptisme dalam pikiran kita itu seperti sengaja memasukkan penyakit pada diri kita sendiri, lalu membawanya ke mana-mana. Skeptisme ini menular. Hingga suatu saat, yang sakit bukan hanya individu tapi masyarakat, bahkan negara.
Saya ingin kita, setidaknya yang di kelas ini, saat nanti sudah saatnya harus berhubungan dengan DPR karena tugas kantor, sudah punya pemahaman yang lebih baik tentang DPR. Iya, harus diakui bahwa meminta persetujuan pada DPR itu sulit. Orangnya banyak, beragam. Tapi harus disadari, merekalah gambaran rakyat Indonesia yang duitnya kita gunakan membiayai program-program kementerian ini. Kalau tidak ada DPR, bayangkan betapa sulitnya kalau kita harus menghadapi seluruh rakyat untuk menyetujui RUU APBN misalnya. Berat sekali. Syukur kita hanya menghadapi wakil-wakilnya. Begitulah kira-kira gambaran rakyat kita juga. Hanya jumlahnya yang berbeda, persentasenya -yang baik, yang kurang baik- insyaaLlah hampir sama.
Menjalani Takdir
![]() |
| sumber |
Selama motoran bintaro – kantor pusat Kemenkeu saya perhatikan, ada yang aneh menurut saya. Orang-orang seperti saya yang kerjanya -sebut saja- di ujung kanan, tinggal di ujung kiri. Banyak pula sebaliknya, tempat kerja di ujung kiri, tinggal di ujung kanan. Ini yg menciptakan lalu lintas, bahkan kemacetan.
Kemaren sore di bandara banjarmasin, saya ngobrol dengan seorang konsultan tambang. Udah kerja dari 2008. Lagi tugas ke kalimantan seminggu. Gaji lumayan. Setelah tau saya CPNS, dia bilang dia ikut tes CPNS tahun kemaren itu. Loh? Saya heran. Masih minat jd PNS mas? Iya, katanya, lebih stabil. Daaaan, hari ini ada teman yang numpang saya motoran ke kanpus Kemenkeu, padahal kantornya di KPP. Ngapain? Mau resign katanya.
Dua kejadian di atas membuat saya berpikir sejenak. Semua ini adalah hasil dari pilihan, kepentingan, keinginan, dan hal lainnya yang membuat ini terlihat rumit, lalu menghasilkan keputusan; saya tinggal di sini meski kerja di sana, atau saya mau jadi/resign dari profesi PNS. Banyak lagi keputusan2 lainnya di luar sana. Tidak ada yang aneh seharusnya. Sejatinya mereka ‘hanya’ sedang menjalani takdir.
Tulisan di atas sebenarnya status facebook saya beberapa hari yang lalu. Ada salah satu komentar unik yang ingin saya bagikan di sini:
Saya juga sering ketemu yang seperti ini. Lebih banyak ibu-ibu. Yang stay at home mom pengen bekerja. Yang bekerja, pengen di rumah aja. Yang paling bingung itu kalau punya kalau punya temen mbak-mbak, yang rambutnya lurus dikeritingin, yang keriting dilurusin.
Begitulah. Dan sejatinya kita tak perlu bingung, karena mungkin kita juga seperti itu di beberapa bagian. Kita hanya sedang sama-sama menjalani takdir.

