PIKIRAN

Like Father, Like Son

Ada sebuah cerita yang saya dengar setelah shalat Ashar tadi….

“Kejadian ini dialami Dr Arun, cucu mendiang Mahatma Gandhi, saat usianya masih 16 tahun. Keluarganya tinggal di sebuah perkebunan tebu yang berjarak sekitar 28 km dari kota Durban, Afrika Selatan. Rumah mereka berada di pelosok desa terpencil.

Suatu hari, ayahnya meminta Arun menemaninya ke kota untuk menghadiri suatu konferensi. Permintaan ini disambut dengan sangat antusias (karena itu berarti ia bisa jalan-jalan di pusat kota). Setelah mengantar sang ayah, Arun juga diminta membawa mobil ke bengkel untuk diperbaiki. Dan setelah itu, Arun disuruh untuk menjemput sang ayah di tempat konferensi.

Nah, selagi menunggu perbaikan mobilnya, Arun pergi ke bioskop. Tapi saking asyiknya menonton film-film John Wayne, ia lupa waktu! Begitu sadar, ia pun segera mengambil mobil di bengkel lalu menjemput ayahnya yang sudah menanti selama hampir satu jam.

Sewaktu ditanya alasan keterlambatannya, Arun berbohong karena merasa sangat bersalah dan malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Kata Arun, ‘Tadi mobilnya belum selesai diperbaiki, jadi Arun harus menunggu.’

Sayangnya tanpa sepengetahuan Arun, sang ayah sebelumnya sudah menghubungi bengkel mobil itu, sehingga sang ayah tahu kalau putranya itu berbohong.

Dengan wajah sedih sembari menatap anaknya, sang ayah berkata, ‘Arun, sepertinya ada yang salah dengan cara ayah mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tidak berani bicara jujur pada ayah. Atas kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki. Dengan begitu, ayah bisa merenungkan di mana letak kesalahan ayah.’

Betapa Arun menyesali perbuatan bodohnya itu. Sejak kejadian itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi berbohong kepada siapa pun. Ia sadar, betapa berharganya pelajaran yang diberikan sang ayah waktu itu. Seandainya saat itu beliau menghukumnya seperti yang dilakukan orangtua pada umumnya ketika menghukum anaknya, ia mungkin akan menderita atas hukuman itu dan sedikit saja menyadari kesalahannya. Namun, tindakan evaluasi diri sang ayah yang tanpa kekerasan itu justru memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah diri Dr Arun sepenuhnya.”

—-

Sebelum Ashar….

Saya bercerita pada ibu tentang kebingungan saya menemani istri yang sedang hamil muda. Terutama soal mual dan susahnya istri saya makan. Apa kandungannya akan sehat saja dan tidak akan kekurangan nutrisi? 

“Santai saja. Begitulah ibu hamil muda. Ibu juga dulu begitu, malah gak pengin makan sama sekali. Soal nutrisi jangan terlalu khawatir. Sekarang janin itu masih berbentuk segumpal daging, kok. Nanti akan ada masa saat bayi sudah berbentuk, waktu itu justru ‘kurang nasi’nya. Ibu akan doyan makan. Itulah masa janin butuh nutrisi. Tetapi, meskipun sekarang asupan nutrisi kurang, ada asupan lain yang tidak boleh kurang. Sekarang, saat yang juga sangat menentukan, bagaimana anakmu nanti. Kalau ayahnya pemarah, sangat mungkin nantinya anaknya pemarah. Kalau ayahnya rajin ngaji, tahajjud, sangat mungkin dan semoga nanti anaknya juga rajin ngaji, shalat, tahajjud.”

Mungkin ada yang bilang kurang ilmiah ya? Tapi begitulah kira-kira nasihat ibu saya.

—-

dan tadi pagi…

Sambil naik motor saat berangkat ke kantor, saya sempet mbrebes mili sendiri karena teringat anak yang sedang dikandung istri saya. Saya takut sekali, kalau sifat-sifat jelek saya yang banyak sekali ini, dimiliki anak saya. Sampai-sampai saya berniat untuk merutinkan doa untuk meminta agar sifat-sifat jelek saya tidak turun pada anak saya dan dibanyakkan sifat-sifat baiknya. 

Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa qurrata a’yunin waj’alna lil muttaqiina imaamaa.


—-
*cerita tentang dokter Arun, saya ambil dari postingan Pak Andrie Wongso, yang sebelumnya cerita itu saya dengar saat kultum ba’da Ashar di masjid Al-Amanah, DJPB, Kemenkeu.

PIKIRAN

OJT Kementerian Keuangan dan Hadits Halal-Haram (1)

Kawan-kawan, bagaimana kabar OJT-nya? Semoga lancar ya. InsyaaLlah dalam kesempatan ini kita akan ngobrol seputar kegiatan kita sekarang. Ini tentang hadits arba’in ke enam dan relevansinya dengan apa yang sekarang sedang dan nanti kita jalani. Buat kawan-kawan lintas pekerjaan dan lintas peran, semoga membaca ini tetap bisa memberikan manfaat. 


Dalam al-Wafi, dikatakan bahwa hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ini adalah landasan pokok dalam syariat Islam. Bahkan Abu Daud berkata, “Islam itu berputar pada empat hadits, dan hadits ini adalah salah satunya.” Mari kita bahas sedikit demi sedikit sambil melihat relevansinya dengan dunia kerja kita.

Kita akan langsung ke terjemahan haditsnya saja. Sedangkan kalau ada kawan-kawan yang ingin mengetahui matannya, bisa langsung merujuk ke al-Wafi atau kumpulan hadits arba’innya Imam Nawawi. Atau, jangan- jangan sudah pada hafal? BarakaLlah…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang subhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak….


Sampai di sini, sepertinya sungguh sangat jelas.

Brothers, gaji kita itu halal, jelas. Tunjangan apapun yang kita dapat dengan cara yang sah itu halal, jelas. Atau, ketika nanti kita dinas luar, ada tunjangan yang sah, itu halal. Jelas? Semoga harta kita diberkahi.

Adapun yang haram juga jelas. Suap dari wajib pajak atau wajib bayar, jelas haram. Mark up tiket buat DL, jelas haram. Membuat kuitansi fiktif, haram. Jelas? Semoga kita dikuatkan.

Nah, kata mentor saya, kalian itu kalau soal halal dan haram yang sebegitu jelasnya, insyaaLlah tidak perlu diragukan lagi bahwa kalian sudah mengerti. Tinggal taufiq dari Allah yang menguatkan kita untuk mencukupkan diri dengan yang halal dan menjauhi yang haram.

Tantangan selanjutnya adalah, kita tahu bahwa antara hitam dan putih , ada warna abu-abu. Begitupula soal halal dan haram ini. Ada perkara syubhat. Perkara yang kita tidak terlalu yakin, itu halal atau haram. Perkara yang kita ragu, halal atau haramkah ini? Perkara yang kita bingung, ini boleh diterima atau tidak?

Di sinilah ada peluang munculnya pembenaran-pembenaran. Kerennya lagi perangkap ini, di setiap instansi ujiannya akan berbeda sehingga teman untuk diskusi pun jadi terbatas. Anggaplah suatu saat kita menerima uang entah dari mana. 

Kita bisa jadi akan bingung, ketika diskusi dengan teman satu instansi yang tahu betul seluk beluk masalahnya secara birokrasi mengatakan bahwa apa yang kita terima itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya. Tapi ketika kita tanyakan kepada teman yang sebenarnya pengetahuan agamanya lebih mumpuni, tapi pengetahuannya secara birokrasi di instansi kita kurang, dia justru mengatakan bahwa kita wajar saja menerima hal itu.

Maka, berhati-hatilah. Temukan kawan yang bisa saling mengingatkan. to be continued…

Kita perlu kawan-kawan yang saling mengingatkan. Karena yang sendirian, pasti tak kuat saat serigala menerkam.

PIKIRAN

Dialog Imajiner Ayah-Anak


Nak, tahukah kamu bagaimana Allah memerintahkan shalat?

“Aqiimuu…., dirikanlah, Yah,”
Benar, tentang zakat?
“Lanjutannya, Yah, wa aatuu…, dan tunaikanlah,”
Tepat, kalau tentang puasa masih ingat?
“Masih, Yah, kutiba alaikum… diwajibkan atas kalian,”
Haji, haji?
“Lupa, Yah,”

Itu, yang dulu kamu hafal ujungnya manistathaa’a ilaihi sabiila,
“Oh iya, aku inget, wa lillahi alan naas…. dan hanya mengharap ridha Allahlah diwajibkan atas manusia,
Mumtaz, kalau baca Quran?
“gampang, Yah, warattilil qur’aana tartiilaa… dan bacalah Quran, dengan tartil,”
Lengkap!
……………
Sekarang kita lanjut ya, siap-siap, ini agak beda.
Kalau bertransaksi kita gak boleh?
“Riba, Yah,”
Inget apa kata Allah?
“Hm… Agak lupa nih, cmiiw ya, Yah.”
Iya, icyiyw, I’ll correct you if you wrong, hhe (bantu ngulur waktu)
“He… hm… wa ahallallahul bai’a wa harramar ribaa.. dan Allah telah halalkan jual beli, juga telah Allah haramkan riba.”
Sip, apalagi yang ga boleh dalam jual beli?
“wailullil muthaffifiin…. Celakalah orang yang mengurangi timbangan!”
Eh, belum ditanya dalil, haha. tapi bener, tidak boleh mengurangi timbangan. 
Hm… apalagi ya. Oiya, kalau tentang emosi, Nabi pernah bilang apa?
“Nabi bersabda, Yah, laa taghdhab, jangan marah,”
Oiya, bersabda ya. hhe. 
Sekarang soal makanan, apa saja yang telah jelas Allah firmankan bahwa itu haram dimakan?
“Mayat, darah, daging babi, binatang yang disembelih bukan atas nama Allah,”
Lafazh Quran pengharamannya?
“Hurrimat ‘alaikum, Yah, diharamkan atas kalian….”
Apalagi yang gak boleh soal makan minum ini?
“Berlebih-lebihan! kata Allah, wa kuluu wasyrabuu wa laa tusrifu… makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan…”
Innallaha la yuhibbul musrifiin, sesungguhnya Allah tidak suka pada orang yang berlebih-lebihan. he 
“Hehehe, dilanjutin,
Nah, anakku, tahukah kamu tentang sebuah rahasia?
“Rahasia apa, Yah? Jelas gak tahu dong, Yah, kan namanya rahasia,”
Hhe, mau tahu gak rahasia yang ini? Tentang soal yang kita bicarain barusan,
“Mau, mau, Yah,”
Mau tau aja apa mau tau banget? hha
“Hahaha, cepetan, Yah,”
Oke-oke. Ayah tanya dulu,
“Yaaa, nanya lagi, hhe”
Kalau nyuruh shalat, puasa, zakat, haji, Allah pakai fi’il apa?
“Fi’il amr, Yah, kan perintah,”
Kalau soal selain itu tadi?
“Jangan marah, jangan berlebih, diharamkan, hm… fi’il nahi, Yah, sama ada fi’il madhi-nya, tapi tetep larangan sih intinya,”
Betul…. Itulah rahasianya, nak. kalau soal ibadah, Allah pakai kata perintah. Itu isyarat agar kita kalau ibadah itu nunggu/nyari perintah Allah dulu. kalau ada perintah, baru dilaksanakan. Jangan sekali-kali beribadah yang gak diperintahkan Allah. Beribadah buat siapa dong kamu?
“Iya ya, Yah. Terus hubungannya sama soal marah, bohong, riba, itu?”
Nah yang itu, itu kan bukan soal ibadah, kan? Biasanya ulama nyebutnya mu’amalah, interaksi kita sesama manusia. Kamu boleh jual beli apa aja dan gimana saja, asal jangan jual barang yang haram, asal jangan ada riba, asal jangan curang menimbang”
“Intinya? Keep it simple, Yah, itu isyarat apa?”
Oke-oke, itu isyarat bahwa dalam muamalah, yang harus kita perhatikan itu batasan-batasan. Kita bebas bergaul dengan siapa saja di muka bumi ini, bebas ngapain aja, tapi dalam bagian ini Allah ngaturnya di bagian yang yang tidak boleh kita lakukan. beda kalau soal ibadah tadi. See?
“Yeah, I see.”
*datang adzan subuh di hari minggu*
“Adzan tuh, Yah,”
Iya. Yang paling penting ini, Nak. Setelah kamu tahu ini, pilih dan lakukan apa yang menjadi keyakinanmu. Hormati keyakinan orang lain karena sejatinya kita masih dalam satu agama. Tidak ada hal dalam perkara ini yang membuat seseorang sampai menjadi kafir. Dan ingat, kurangi berdebat.
“Oke, Yah, aku duluan ya, temen-temen udah pada ke mesjid juga kayaknya,”
Oke
*salaman, lalu anak ini lari-lari ke mesjid, gaya khas anak kecil*
*ayahnya gak ikut lari*
*ah, kapan ya itu. mungkin saat dia sudah mulai mengenal banyaknya perbedaan pendapat dan sudah harus mengerti mana pendapat yang harus ditolerir. tentu, sekaligus mana yang tidak.