PIKIRAN

Kebebasan itu Omong Kosong (2)


Kebebasan itu omong kosong.
Katanya, aku bebas berekspresi, tapi selama rok masih di bawah lutut.
Hidup ini singkat, mumpung masih muda, nikmati sepuasnya, asal jangan lewat dari jam 10 malam.
Jodoh ada di tanganku, yang penting sesuku, kalau bisa kaya, berpendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik.
Katanya, jaman sekarang pilihan itu nggak ada batasnya, selama ikuti pilihan yang ada.
(iklan sebuah operator)

Sekarang saya mau bilang kalau saya harus mengakui kalau scriptwriteriklan di atas itu keren, cerdas, pinter, cerdik, licik, ah sudahlah. He. Ya, saya saya harus mengakui itu. Karena itu saya pengen bahas satu-satu lalu lihat polanya secara keseluruhan. Saya mau bahas dari kalimat terakhir. Sebelum itu saya mau mengingatkan: semua kalimat di iklan ini, mengkritisi kondisi sekarang –apapun konteksnya.
4. Katanya, jaman sekarang pilihan itu nggak ada batasnya, selama ikuti pilihan yang ada.
Ini  kalimat yang bisa kita terima. Jika konteksnya kehidupan, kritik ini bisa kita terima. Apalagi kalau konteksnya sindiran buat operator lain. Clear, ya? Ini aman di kedua sisi.
3. Jodoh ada di tanganku, yang penting sesuku, kalau bisa kaya, berpendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik.
Ini juga kalimat yang bisa kita terima. Tapi jelas konteksnya adalah kehidupan. Menurut saya, tidak ada unsur sindiran di sini. Sepakat?

2. Hidup ini singkat, mumpung masih muda, nikmati sepuasnya, asal jangan lewat dari jam 10 malam.
Ini jelas mengandung unsur sindiran buat operator lain, ya kan? Sehingga seperti terjadi pemakluman pada unsur pengkritisan nilai “lewat jam 10 malam” jika konteksnya adalah kehidupan kita.

1. Katanya, aku bebas berekspresi, tapi selama rok masih di bawah lutut.
Ini jelas bukan sindiran. Namun, jika konteksnya kehidupan, pernyataan ini jelas bermasalah –buat saya.
Jadi, jelas berbeda dengan kalimat lain yang polanya pasti aman salah satunya: jika agak bermasalah dalam konteks kehidupan, dia akan mengandung unsur sindiran (kalimat 2). Atau, jika bukan sindiran, kalimat itu akan mudah diterima atau memang sesuatu yang umum dalam kehidupan (kalimat 3). Kalimat 4, jelas aman keduanya, sindiran sekaligus kritik umum. Kalimat satu? Bukan sindiran dan bukan kritik umum. Sebagian kawan-kawan akan mengerti di mana bermasalahnya kritik ini, bukan? Jadi tak perlu saya bahas lah ya.
Sekarang lihat polanya secara keseluruhan. Kecerdasan si scriptwriter terlihat dari betapa elegannya meletakkan kalimat-kalimat sindiran. Dia tidak terjebak pada gaya sindir menyindir iklan kebanyakan. Dari empat kalimat yang dibahas di atas, hanya dua yang mengandung sindiran. Bahkan, dari jumlah kalimat dalam iklan itu, kira-kira 6-7 kalimat, tetap hanya dua kalimat itu yang menyindir operator lain. Kerennya, kalimat sindiran ini tidak ditulis secara berurutan, tetapi diselingi dengan kalimat lain yang tak mengandung sindiran sama sekali. Bahkan, kalimat sindiran ini juga masih mengandung kritik umum yang sudah kita setujui. Jadi, sebenarnya kita sudah digiring untuk menyetujui sindiran untuk operator lain itu. Sebagian dari kita setelah mendengar iklan ini akan tersenyum, bukan? 🙂
Selain itu, sudah kita bahas bahwa di antara kritik yang ada dari kalimat pertama sampai ke empat, yang paling bermasalah adalah kalimat pertama. Nah, peletakkan kalimat ini di awal cukup cerdik. Kalimat ini diletakkan ketika kita belum “ngeh” ini iklan apa. Lalu kita digiring untuk setuju dengan kalimat-kalimat berikutnya. Cerdik, kan? Bayangkan betapa berbahayanya jika kalimat pertama ini mengandung pernyataan yang merusak.
Nah, terlepas dari hal di atas, ada yang bisa kita pelajari. Suatu saat, jika Anda ingin memasukkan sebuah ide ke masyarakat, tapi ide itu belum umum dan cenderung akan mengalami penolakan, tirulah pola iklan ini. Letakkan ide Anda di awal, lalu jejerkan hal-hal yang sudah disetujui umum setelahnya. Meskipun ada lompatan logika, yang penting ide umumnya sama. Selain itu, pola iklan yang pendek dan berulang juga bisa dipakai. Bayangkan bagaimana jadinya jika pola ini bisa digunakan untuk kebaikan? Semoga bermanfaat.

*note: jika ada kawan-kawan yang protes tulisan ini justru mengiklankan iklan tersebut, saya sudah pertimbangkan itu. Imho, itu tergantung kita, mau melihat dari mana. Tujuan saya menulis ini adalah menghidupkan alarm kawan-kawan ketika mendengar kalimat serupa kalimat pertama itu. Sisanya, tergantung kawan-kawan, mau melihat tujuan saya atau asumsi kawan-kawan tentang efek teriklankannya iklan tersebut –nah ribetkan. Hhe.

2 thoughts on “Kebebasan itu Omong Kosong (2)”

Leave a reply to Habib Asyrafy Cancel reply