mulai /mu·lai / 1 v mengawali berbuat (bertindak, melakukan, dsb)
Ketika mendengar kata mulai, yang pertama teringat oleh saya adalah tentang bagaimana kita mulai berjalan. Ingat langkah pertama kita? Tentu tidak. Tapi, melihat bayi yang mulai bisa berjalan, kita bisa tahu bahwa seperti itu pula lah kita memulai.
Puasa wajib di bulan Ramadhan akan kita mulai. Ingat puasa pertama kita? Mungkin iya. Oya, bagaimana rasanya?
Saat mulai, kita mungkin masih tertatih, jatuh, lalu bangun dan mulai berjalan lagi. Secara tak sadar, waktu itu, kita mengumpulkan segala informasi tentang berjalan, dari merasakan, juga dari bantuan dan sorakan orang tua kita. Lama tertatih, seterusnya kita terlatih.
Ingat waktu kita pertama kali belajar tentang niat puasa, pembatal puasa, sunnah dalam puasa, dan makruh dalam puasa? Saya yakin ilmunya masih diingat sampai sekarang. Puasa pertama, kita begitu merasa payah, lapar, dan haus. Tapi kita juga begitu berhati-hati menyiapkan dan menjaganya. Sampai akhirnya, kita terbiasa dengan puasa.
Semakin terbiasa kita berjalan, semakin lancar kita melangkah. Kita semakin terbiasa berjalan kesana kemari, orang tua kita tak khawatir lagi. Namun di sisi lain, saat kita terbiasa, kita lengah akhirnya. Jatuh, terkilir, kadang harus menjadi pengingat kita berhati-hati, untuk kembali memperhatikan cara kita melangkah. Oya, ada yang menghitung sudah berapa langkah yang kita lakukan sejak langkah pertama kita? Tentu tidak, tidak penting. 🙂
Entah ini puasa ke berapa. Mungkin kita mulai meremehkan ilmunya. Waktunya sahur, ya sahur, terserah bagaimana sahurnya, yang penting gak lewat waktu imsak. Waktunya puasa, ya puasa, udaaaah aja, yang penting gak makan-minum. Waktunya buka, ya buka, yang penting makan. Kadang kita alpa tentang sunnah-sunnah di dalamnya bahkan tak sadar melakukan pembatal-pembatal pahala puasa. Na’udzubillah.
Dengan pengalaman jatuh, melangkah lagi, lebih berhati-hati lagi, harusnya kita semakin mahir melangkahkan kaki kita ke arah yang lebih baik. Namun, bisa saja kita semangat di awal, di tengah kita ditegur tapi abai, di akhir kita entah berujung di mana. Tapi begitulah perjalanan, memulainya dinilai, prosesnya dinilai, akhirnya juga dinilai. Dalam beberapa hal, ada memulai yang nilainya lebih besar, ada proses yang nilainya lebih istimewa, ada juga yang akhirnyalah yang menjadi penentu.
Bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita. Mari berusaha memperbaiki mulainya, melakukan terbaik di prosesnya, dan menggapai yang tertinggi di akhirnya. Karena jelas sebuah rahasia bagi kita, bagian Ramadhan mana yang paling baik. Tugas kita hanya memulainya dengan semangat, menjalaninya dengan sabar, dan semoga bisa mengakhirinya dengan baik, sebuah husnul khatimah.
:’)

Tulisan yang mengingatkan dan menyimpulkan tentang “power of habbit”… sering itu karena kita sudah menganggap biasa suatu kebiasaan jadinya kebiasaan itu ya tidak jadi istimewa.. tetapi kalau cara berpikir yang tepat untuk mengistimewakan kebiasaan baru deh hasilnya luar biasa.. seperti analogi jalan dan Ramadhan yang Juli sampaika ini 🙂
yeee.. akhirnya mood kembali untuk menulis dan membalas komen di blog.. :v
Jadi, gimana mulai, proses dan hasil puasa kemarin? 😀
Selamat menunggu Ramadhan selanjutnya ya, semoga kita bisa bersua bulan Ramadhan lagi,, 😀
Alhamdulillah hasilnya anak lahiran dengan selamat 4 hari lalu.. :v #ngaco
*ngaminin doa*