PIKIRAN

‘Resensi’ Pengantar Sebuah Buku tentang Ekonomi

Judul Asli : 50 Economic Ideas you really need to know. Judul Terjemahan oleh Gina Gania – Penerbit Erlangga

(Ekonomi adalah) sesuatu yang membosankan, tidak menarik, dan tentu saja cukup banyak ditentang serta menyebabkan kekesalan; yang mungkin kita sebut dengan istilah yang lebih dikenal dengan ilmu yang menyedihkan

Dengan kutipan di ataslah Edmund Conway, sang penulis, memulai kata pengantarnya di buku 50 Gagasan Ekonomi yang Perlu Anda Ketahui. Kutipan tersebut adalah definisi ekonomi dari Thomas Carlyle di tahun 1849. Berdasarkan definisi tersebut, Edmund melanjutkan, “Ekonomi adalah sesuatu yang biasanya diperhatikan orang ketika banyak hal memburuk. Saat ekonomi dihadapkan pada krisis, ketika ribuan orang kehilangan pekerjaan mereka, ketika harga naik terlalu tinggi atau turun terlalu cepat, baru kita cenderung memperhatikan subjek tersebut.”

Saya membaca buku ini di tahun 2012 sedangkan Edmund menulisnya di tahun 2009, namun saya merasa mendapatkan gambaran paling nyata dari narasinya itu di tahun ini. Di hari-hari Agustus dan September tahun 2015. Saya melihat begitu banyak orang-orang membicarakan ekonomi dari berita di televisi, koran, media sosial, hingga media abal-abal. Terakhir, saya tahu bahwa para mahasiswa telah turun ke jalan menggugat pemerintah atas kondisi ekonomi yang memburuk –meski media tidak banyak memberitakan.

“Hal tersebut merupakan sifat manusia,” lanjut Edmund memaklumi kecenderungan manusia untuk berfokus pada sisi menyedihkan dari sesuatu, “Banyak buku ekonomi berusaha untuk menyingkirkan ilusi semacam itu. Hal tersebut terdengar putus asa, dan terus terang itu bukan gaya saya.” Gue suka gaya lu! Karena harus saya akui, saya pun mulai tertarik dengan subjek ini di saat seperti sekarang ini, atau yang paling konkrit dan terjadi berulang adalah saya mulai lebih memperhatikan tindakan-tindakan ekonomi pribadi saya saat mendekati akhir bulan. Ya, saat masa krisis. Anda juga? Semoga tidak.

Edmund pun menambah ketertarikan saya, “Rahasia kecil dari ekonomi adalah bahwa ekonomi sama sekali tidak rumit –mengapa harus rumit? Ekonomi merupakan studi manusia, dan karena itu gagasan-gagasannya seringkali tak lebih dari sekadar akal sehat”. Ah, tak berlebihankah ini? Saya rasa tidak, karena di paragraf sebelumnya dia telah menyebutkan tantangan awal memelajari ekonomi. “Jika ekonomi,” perhatikan kalimat selanjutnya, “hanya merupakan studi mengenai angka, statistik, dan teori maka analogi ilmu yang menyedihkan memiliki dasar yang lebih kuat. Namun, ekonomi, hingga inti mendalam, adalah studi mengenai orang.” Benar sekali, karena di awal kita belajar ekonomi, kita akan harus belajar angka, statistik, teori, dan satu hal lagi yang disebut Edmund sebagai persamaan yang aneh. Kita harus melewati tahap berdarah-darah dulu bersama hal-hal tersebut sampai pada ‘kedalaman’ tertentu kita akan menyadari bahwa ini adalah studi tentang orang.

Sedikit tentang saya. Sebagai seorang yang masih terus memikirkan apa yang sebenarnya menjadi minat studi saya selanjutnya, saya sempat berubah-ubah pikiran. Sempat terpikir tentang sesuatu yang sangat luas semacam pengembangan sumber daya manusia karena saya senang sekali membaca studi tentang manusia, sampai yang sangat kecil dan terfokus sesuai tempat di mana sekarang saya bekerja, Perbendaharaan Negara. Saya tak pernah menganggap pemikiran sebelumnya itu salah. Hanya saja sekarang saya berpikir saya telah menemukan irisan keduanya: Ekonomi. Di dalamnya jelas ada studi tentang pilihan sikap manusia, juga pasti terkait dengan instansi di mana saya berada. Sampai di sini saya diam-diam berharap, Direktorat Jenderal Perbendaharaan pada waktunya nanti mempermudah syarat seleksi beasiswa S1 Ekonomi (di manapun) untuk pegawainya, terutama terkait syarat lama bekerja. Meskipun jika memang pintu DIV PKN-STAN yang pertama menghampiri, semoga saya bisa tak menyia-nyiakannya. Ah, akhirnya saya ungkapkan secara terbuka juga hal ini.

Kembali ke soal buku yang sangat layak dibaca ini. Dari tahun 2012 saya telah beberapa kali membagi beberapa kutipan di dalamnya melalui akun facebook saya. Salah satu favorit saya, dalam gagasan Hukum Penawaran dan Permintaan, Edmund mengutip pernyataan seorang Ekonom Victorian, Alfred Marshall, “Kita mungkin juga memperdebatkan apakah bagian gunting yang atas atau yang bawah yang memotong kertas, demikian juga apakah nilai/harga diatur oleh permintaan atau penawaran.” Memancing kita berpikir, bukan?

Oh, ya, satu lagi. Tentang perpajakan Edmund mengutip Jean-Baptiste Coblert, Menteri Keuangan Prancis (1685-1683). Katanya, “Seni perpajakan terdiri dari mencabuti bulu angsa untuk memperoleh bulu paling banyak dengan keributan yang sedikit.”

Saya kemudian berpikir, kenapa saya tidak pernah menemukan kutipan-kutipan cerdas seperti ini di buku-buku teks ekonomi yang sudah-sudah. Ah, mungkin saya yang masih kurang membaca.


4 thoughts on “‘Resensi’ Pengantar Sebuah Buku tentang Ekonomi”

  1. Kalo ane bacaannya Perkembangan Pemikiran Ekonomi tulisan Deliarnov, Jul. Di sana gak ada kutipan-kutipan hikmah spt di atas. Murni teori. Akhirnya gak ada yg nempel di kepala. haha

Leave a reply to Aswin Cancel reply